Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

BPBD Rembang Targetkan 100 Destana di 2026, Wabup Ajak Gotong Royong, 199 Desa Rawan Bencana Tinggi

Ali Mahmudi • Senin, 17 November 2025 | 04:22 WIB
RESPONSIF: Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro turun langsung mengecek kondisi aliran sungai menghadapi potensi bencana hidrometeorologi musim penghujan.
RESPONSIF: Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro turun langsung mengecek kondisi aliran sungai menghadapi potensi bencana hidrometeorologi musim penghujan.

REMBANG- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang menargetkan pembentukan 100 Desa Tangguh Bencana (Destana) pada 2026. Saat ini, baru 32 Destana yang terbentuk hingga akhir 2025.

“Kurang banyak. Melihat potensi bencana di Rembang, kita butuh lebih banyak Destana,” tegas Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro alias Gus Hanies, saat memimpin rapat koordinasi kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi 2025/2026 di Aula Gedung Hijau, kompleks rumah dinasnya, baru-baru ini.

Berdasarkan Kajian Risiko Bencana 2024-2028 (Perbup No. 21/2025), 199 desa masuk kategori bahaya tinggi. Tujuh ancaman utama mengintai: kekeringan (251 desa potensi tinggi), cuaca ekstrem (181 desa), kebakaran hutan-lahan (181 desa), banjir (96 desa), tanah longsor (39 desa), gelombang ekstrim-abrasi (16 desa), dan gempa bumi (285 desa potensi sedang).

Gus Hanies menekankan pentingnya kesadaran lingkungan dan gotong royong. “Bukan hanya soal sampah, tapi semangat kebersamaan harus digelorakan, terutama di daerah rawan,” katanya.

Ia mencontohkan Kecamatan Kaliori yang sering “dilewati” banjir. “Kadang singgah terlalu lama, repot kalau masuk rumah warga atau ganggu fasilitas umum,” ujarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Sri Jarwati menjelaskan, pembentukan Destana menggunakan metode Penilaian Ketangguhan Desa (PKD). “Desa rawan bisa mandiri menangani bencana,” katanya.

Tahun 2026, 100 desa baru akan dibentuk. “Edukasi, latihan, dan pemahaman bahwa bencana adalah urusan bersama,” tambah Sri.

Dengan Destana, desa tak lagi bergantung penuh pada bantuan luar. Masyarakat dilatih evakuasi, pertolongan pertama, hingga pemulihan pasca-bencana semua di level desa.

“Dalam rapat bersama kepala desa, camat, dan instansi terkait. Semua sepakat: musim hujan 2025/2026 harus dihadapi dengan kesiapan, bukan kepanikan,” tambahnya. (noe/ali)

Editor : Zainal Abidin RK
#destana #abrasi #bpbd rembang