REMBANG – Gelora budaya lokal menggema di halaman SMAN 1 Sumber.
Delapan kelas 11 sukses memukau penonton melalui pentas ketoprak yang digelar selama dua hari, 29–30 Oktober 2025.
Yaitu sebagai puncak Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sekaligus peringatan Bulan Bahasa 2025.
Kegiatan ini bermula dari inisiatif tim kurikulum yang berkolaborasi dengan kesiswaan.
“Kami sengaja memilih ketoprak untuk mengangkat kebudayaan lokal yang masih diminati masyarakat Kecamatan Sumber,” ujar Hidayati, anggota Tim Kurikulum SMA Negeri 1 Sumber disampingi Suyatmiati Humas SMAN 1 Sumber, saat ditemui di sela pentas, Kamis (30/10).
Delapan kelas, yaitu F1 hingga F8, memilih lakon masing-masing secara mandiri.
Proses latihan berlangsung selama empat bulan di dalam jam pelajaran efektif melalui kolaborasi mata pelajaran Bahasa Jawa, Seni, dan PJOK.
“Mereka membuat skenario, menata wardrobe, hingga mendokumentasikan kegiatan sendiri,” tambah Hidayati.
Pementasan berlangsung tanpa biaya sekolah. Siswa swadana merias diri dan mencari kostum sendiri.
“Gladi bersih sudah kami lakukan, sehingga hari ini mereka tampil maksimal,” kata pendamping ketoprak, Nurhadi didampingi Didik Hartono, yang mendampingi bersama wali kelas masing-masing.
Hari pertama, Rabu (29/10), menampilkan empat kelas. Hari kedua, Kamis (30/10), empat kelas sisanya menyusul.
Penonton antusias menyaksikan lakon-lakon klasik yang dibawakan dengan penuh semangat.
Pentas ketoprak ini menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bahasa 2025.
Sebelumnya, sekolah menggelar lomba macapat setiap Senin, lomba menyanyi bahasa Inggris, lomba puisi pada 27 Oktober, serta upacara Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.
Tak hanya kelas 11, kelas 12 juga berkarya melalui batik ekoprint. Hasil karya siswa kelas 10 dan 11 diluncurkan pada Oktober ini dan dikenakan seluruh sivitas akademik setiap Kamis minggu pertama.
“Bapak dan Ibu Guru juga mengenakan batik ekoprint hasil karya anak-anak,” ungkap Hidayati.
Harapan besar disematkan pada kegiatan ini.
“Kami ingin menumbuhkan kecintaan anak pada budaya lokal, melestarikan bahasa Jawa, sekaligus membekali life skill,” tutur Hidayati.
Pentas ketoprak dan ekoprint menjadi bukti bahwa pembelajaran berbasis proyek mampu menghidupkan warisan budaya di tengah era modern. (noe/ali)
Editor : Ali Mustofa