REMBANG – Museum RA Kartini di Rembang sedang bersolek. Tahun ini, fokus revitalisasi adalah dapur Kartini yang selama ini belum tersentuh penataan. Akhir tahun ditargetkan pengunjung sudah bisa menikmati sentuhan baru.
Kurator Museum RA Kartini Rembang, Retna Diah Radityawati, menjelaskan bahwa proyek ini bertujuan menghidupkan nilai-nilai Kartini secara lebih luas. Bukan hanya pendidikan yang sudah terkenal, tapi juga aspek internal rumah tangga.
"Menurut kacamata budaya, dapur adalah bagian terpenting dalam sebuah rumah. Apalagi saat Kartini di Rembang, beliau ibarat ibu rumah tangga. Denyut nadi keluarga ada di dapur," ujar Retna kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Dalam rumah tradisional Jawa, dapur atau pawon bukan sekadar tempat memasak. Ia menjadi pusat domestik yang menopang keberlangsungan hidup keluarga. Letaknya di belakang rumah menunjukkan sifat semi-privat, sementara lantai rendah melambangkan aliran rezeki yang diharapkan terus mengalir.
Proses pembangunannya yang selalu di akhir mengajarkan filosofi: kebutuhan jasmani hanyalah sarana, bukan tujuan utama. Api yang menyala di pawon merepresentasikan kehangatan rumah tangga, sekaligus melestarikan harmoni, nilai, dan kosmologi kehidupan Jawa.
Ruang dapur ini berada tepat di belakang ruang makan. Revitalisasi dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dengan kontrak selesai awal Desember.
Sebelumnya, kajian dilakukan sudah dilakukan pada Agustus-September 2025, dilanjutkan seminar di Oktober. Seminar dan kajian ini menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik dari APBN. (noe/ali)
Editor : Mahendra Aditya