KALIORI – Desa Kuangsan, Kecamatan Kaliori, terus menunjukkan kesiapan dalam mengantisipasi bencana banjir.
Selain melakukan normalisasi dengan pengerukan, warga juga memasang sirine peringatan bahaya untuk mendeteksi luapan air saat banjir.
Langkah ini memperkuat posisi Kuangsan sebagai desa tangguh bencana (destana) percontohan.
Pada pekan lalu, tepatnya 24 Juli 2025, Desa Kuangsan melanjutkan normalisasi sungai.
Pengerukan sungai telah berlangsung selama sepekan, menyasar panjang 1,5 km.
Kegiatan ini melibatkan Pemerintah Desa (Pemdes), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR).
Pengerjaan dilakukan secara gotong royong. Alat berat disediakan oleh DPU, bahan bakar dari BBWS, dan kebutuhan lainnya ditanggung oleh desa.
BPBD Kabupaten Rembang turut membantu dengan meminjamkan alat potong dan peralatan pendukung lainnya.
Kepala Desa Kuangsan, Tarmuji, menjelaskan bahwa normalisasi sungai dimulai sejak Senin, 21 Juli 2025, dan telah berjalan selama sepekan.
Pengerjaan direncanakan berlangsung selama 20 hari hingga satu bulan ke depan.
“Sepanjang 1,5 km sungai yang dinormalisasi melintasi tengah desa,” ujar Tarmuji kepada Jawa Pos Radar Kudus pada Senin (28/7).
Normalisasi dilakukan untuk memastikan akses di sisi kanan dan kiri sungai, sehingga memudahkan pemeliharaan jika terjadi hambatan.
“Dulu, rumpun bambu yang padat menyulitkan pengerjaan. Makanya, normalisasi ini penting untuk memperkuat tanggul agar air tidak meluap ke pemukiman,” tambahnya. (noe)
Editor : Ali Mustofa