SULANG – Suasana meriah memenuhi halaman Kantor Kecamatan Sulang, Senin malam (23/6), saat para siswa SD Negeri 1 Sulang sukses mementaskan kesenian tradisional ketoprak dalam rangkaian kegiatan Gebyar Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Pertunjukan yang dikemas penuh semangat itu tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi bukti nyata keberhasilan program P5 yang mengangkat tema kearifan lokal.
Para siswa tampil kompak dan percaya diri di atas panggung, memainkan berbagai peran dengan ekspresi dan intonasi yang mencuri perhatian penonton.
Baca Juga: SPMB Rembang Masih Manual, BBPMP dan Inspektorat Turun Langsung ke Sekolah
Kepala SDN 1 Sulang, Muhammad Syakir, mengungkapkan bahwa pagelaran ketoprak ini merupakan bagian dari proses pembelajaran berbasis nilai-nilai Pancasila.
“Tahun ini adalah tahun keempat kami mengadakan ketoprak cilik. Melalui seni budaya, kami ingin siswa lebih mengenal dan mencintai warisan lokal seperti seni karawitan dan ketoprak,” jelasnya.
Sementara itu, Camat Sulang Arief Dwi Sulistya turut mengapresiasi kegiatan ini.
Menurutnya, pentas seni seperti ini merupakan wujud konkret pelaksanaan kurikulum yang mengedepankan pembentukan karakter dan keterampilan siswa.
“Anak-anak tidak hanya diberikan ilmu pengetahuan, tapi juga diasah kemampuan, keahlian, dan rasa percaya diri melalui seni dan keterampilan lainnya,” ujarnya.
Arief pun mengajak para guru dan orang tua untuk terus mendampingi dan mendukung proses belajar anak-anak.
Baca Juga: Tebar Semangat Berbagi Idul Adha 1446 H, BRI Cabang Rembang Salurkan Hewan Kurban untuk Masyarakat
“Mereka sedang bertumbuh. Kita semua punya peran penting untuk menjadikan mereka pribadi yang percaya diri dan sukses,” imbuhnya.
Ketua Komite Sekolah, Bambang, juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini.
Ia menegaskan bahwa seluruh pemain dalam pentas ketoprak adalah siswa-siswi SDN 1 Sulang dari berbagai jenjang kelas.
“Gebyar P5 tahun ini menampilkan ketoprak yang semua pemainnya berasal dari siswa kami sendiri.
Ini bukti bahwa pendidikan karakter dan budaya bisa dikemas secara menarik dan melibatkan semua,” pungkasnya. (Vachri Rinaldy)
Editor : Mahendra Aditya