Program Melati Resmi Diterapkan di 186 Madrasah, Jadi Percontohan pada 15 Madrasah di Rembang, Ini Penjelasannya
Redaksi Radar Kudus• Sabtu, 7 Juni 2025 | 00:19 WIB
Program melati, terobosan dalam mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan nilai-nilai keagamaan di lingkungan madrasah.
REMBANG – Upaya pelestarian lingkungan kini mendapat sentuhan spiritual melalui peluncuran Program Melati (Madrasah Ekoteologi Lestarikan Alam dan Tingkatkan Iman), Kamis (5/6).
Program terobosan ini mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan gerakan peduli lingkungan, menyasar seluruh madrasah di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Rembang.
Sebanyak 15 madrasah ditunjuk sebagai proyek percontohan tahap awal, sebelum program ini diperluas ke 186 lembaga pendidikan mulai dari RA, MI, MTs hingga MA, dengan target implementasi penuh hingga Mei 2026.
Peluncuran Hybrid: Dari Madrasah Hingga Seluruh KUA
Acara peluncuran digelar secara hybrid (luring dan daring). Kegiatan luring dipusatkan di MTs Negeri 4 Rembang, Sumber, yang selama ini dikenal sebagai madrasah dengan pengelolaan sampah berbasis zero waste—tidak menggunakan jajanan dalam kemasan plastik sekali pakai.
Sementara itu, kegiatan daring diikuti oleh seluruh madrasah se-Kabupaten Rembang serta 15 kepala KUA dan para penyuluh lintas agama.
Program ini diresmikan oleh Bupati Rembang Harno yang diwakili Asisten III Setda Bidang Administrasi Umum, Dwi Wahyuni Hariyati, dan dihadiri anggota DPRD Rembang M. Bisri Cholil Laqouf (Gus Gipul), Kepala Kankemenag Rembang M. Muhson, dan para kepala madrasah negeri dari berbagai jenjang.
Ekoteologi: Menanam Itu Ibadah, Membersihkan Itu Iman
Kepala Kemenag Rembang, M. Muhson, menjelaskan bahwa ekoteologi adalah pendekatan spiritual dalam merawat bumi—menggabungkan prinsip ekologi dengan nilai-nilai teologi.
Menurutnya, pelestarian lingkungan bukan sekadar kegiatan duniawi, melainkan bagian dari ibadah.
“Menanam itu sedekah, menjaga kebersihan adalah sebagian dari iman. Melalui Melati, kami ingin nilai-nilai ini diwujudkan dalam tindakan nyata di madrasah,” tegas Muhson.
Sebagai bagian dari aksi awal, sekitar 30.000 siswa madrasah se-Rembang dijadwalkan menanam pohon secara serentak, dengan asumsi satu siswa menanam satu pohon. Gerakan ini akan berlangsung mulai hari peluncuran hingga beberapa hari ke depan.
Muhson menambahkan, 15 madrasah yang menjadi proyek percontohan mencakup MAN 1 dan MAN 2 Rembang, seluruh MTs Negeri di Kabupaten Rembang, serta madrasah swasta seperti Riyadlotut Thalabah, MA Ar Rohman, MTs Al Anwar Sarang, dan MTs Maslakul Huda Sluke.
“Target kami, madrasah menjadi pionir dan pelopor dalam sejarah pelestarian alam di Kota Santri ini. Tidak hanya menonton, tetapi mengambil peran aktif,” ujarnya.
Ia berharap semangat pelestarian berbasis spiritualitas ini akan merembet ke masyarakat luas, tak terbatas hanya pada lingkup madrasah.
Pemkab Apresiasi, Dorong Masuk Kurikulum Nasional
Pemkab Rembang melalui Asisten III, Dwi Wahyuni Hariyati, mengapresiasi program Melati dan menyebutnya sebagai pelengkap Program Adiwiyata yang selama ini dijalankan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
“Melati bukan hanya menyasar aspek fisik pelestarian lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran spiritual. Cinta lingkungan tidak cukup dikerjakan, tapi harus dirasakan dan dihayati,” ucapnya.
Dwi Wahyuni juga mendorong agar konsep ini dapat direplikasi di sekolah-sekolah di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), melalui pengembangan muatan lokal (mulok) berbasis ekoteologi.
DILUNCURKAN: Asisten III Rembang, Anggota DPRD Gus Gipul, Kepala Kemenag luncurkan program melati.
Implementasi Program Melati: Ekoteologi di Madrasah
Dua Pilar Kegiatan Utama:
Pendidikan Fiqih Lingkungan dan Penanaman Nilai Spiritual
Materi fiqih lingkungan diajarkan untuk menanamkan kecintaan terhadap alam.
Tidak hanya menjadi mata pelajaran, tapi diwujudkan dalam perilaku nyata siswa.
Aksi nyata: penanaman pohon oleh ribuan siswa, minimal setahun sekali.
Pengelolaan Lingkungan Madrasah yang Sehat dan Nyaman
Penataan lingkungan madrasah dilakukan agar lebih hijau, rindang, dan estetik.
Harapannya, madrasah menjadi tempat belajar yang menyenangkan dan dirindukan.
Kebiasaan Baru yang Dibentuk:
Madrasah menerapkan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.
Budaya tidak membeli jajanan plastik sekali pakai mulai dikembangkan sejak dini.
Dengan pendekatan yang menggabungkan ilmu, iman, dan aksi nyata, program Melati menjadi contoh konkret bagaimana lembaga pendidikan bisa menjadi agen perubahan—tidak hanya untuk pelestarian alam, tetapi juga dalam membentuk karakter spiritual generasi muda. (Wisnu Aji)