REMBANG – Seorang pria yang diduga mengalami gangguan jiwa melakukan aksi pembacokan terhadap dua rekan sesama ABK di atas kapal saat berlayar di perairan Karimunjawa, pada koordinat 04° 46' S - 111° 27' E.
Insiden tersebut menyebabkan dua orang mengalami luka bacok di bagian leher dan kaki akibat sabetan bendo.
"Benar, ada kejadian pembacokan di tengah laut. Korban dan pelaku sama-sama warga Kabupaten Rembang.
Baca Juga: Gagal Bobol Konter HP, Lima Anak Punk di Jepara Diamankan Polisi
Menurut keterangan kru KM Jaya Makmur GT 50, kapal milik Jumadi, warga Gegunung Wetan, Rembang, saat itu sedang labuh jangkar," jelas Kasat Polairud AKP Mundhi kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Kapal diketahui berlabuh menjelang waktu Magrib. KM Jaya Makmur membawa 16 awak kapal, termasuk nahkoda, dengan tujuan menangkap ikan di perairan Karimunjawa, sesuai Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dan daftar kru yang ada.
Dibacok Saat Tidur
Sekitar pukul 21.30 WIB, para ABK tengah beristirahat di kapal. Tiba-tiba, dua orang korban, yakni Santoso (warga Desa Sendangagung, Kaliori) dan Dany Nur Wachid (warga Kelurahan Sukoharjo, Rembang), dibacok oleh pelaku bernama Mohammad Alfaridzi (26), warga Desa Padaran, Rembang.
"Pelaku menggunakan bendo sebagai alat untuk membacok. Setelah itu, bendo dibuang ke laut, lalu pelaku menceburkan diri ke laut," ungkap AKP Mundhi.
Ditanya mengenai motif pembacokan, apakah karena dendam atau sebab lain, AKP Mundhi menyampaikan bahwa berdasarkan pemeriksaan saksi dan korban setelah kapal merapat ke perairan Rembang pada Senin sore pukul 16.30 WIB, pelaku diketahui memiliki riwayat gangguan kejiwaan.
Kepala Desa Padaran bahkan sempat mengantar pelaku ke rumah sakit jiwa. Saat itu, pelaku menjalani perawatan selama dua minggu.
Namun, saat pemeriksaan awal Senin malam, dokumen pendukung terkait kondisi kejiwaan pelaku belum lengkap dan baru disusulkan pada Selasa.
"Menurut keterangan ABK dan korban, pelaku dikenal pendiam. Jika diajak bicara, hanya menjawab 'iya' atau 'tidak'.
Tidak ada percakapan santai. Hal ini sesuai juga dengan penuturan Kepala Desa saat mengantar ke rumah sakit dulu," tambahnya.
Baru Tiga Kali Melaut, Sempat Cerai
Pelaku diketahui baru mengikuti pelayaran sebanyak tiga kali. Biasanya, satu kali perjalanan berlangsung selama 20–25 hari.
Selain memiliki riwayat gangguan jiwa, pelaku juga mengalami masalah keluarga.
Ia baru saja bercerai dengan istrinya yang merupakan warga Desa Landoh, Kecamatan Sulang. Setelah perceraian, ia kembali tinggal bersama orang tuanya di Padaran.
"Hingga Selasa, pelaku pembacokan belum ditemukan. Posisi terakhir di laut, sekitar 115 mil dari Pantai Tasikagung, Rembang.
Sementara dua korban hanya menjalani rawat jalan. Setelah diperiksa di RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, mereka langsung pulang dan bisa dimintai keterangan pada Senin malam di Kantor Satpolairud," jelas AKP Mundhi.
Upaya Pencarian Masih Berlangsung
Terpisah, Kepala Desa Padaran, Munawari, membenarkan bahwa pelaku merupakan warganya. "Iya, betul. Warga Padaran.
Memang punya riwayat gangguan jiwa, sudah sejak setahun lalu," ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp.
Dari informasi yang dihimpun, usai kejadian, sebagian kru kapal langsung melakukan upaya pencarian terhadap pelaku.
Mereka sempat melempar pelampung ke laut, namun pelaku justru berenang menjauh mengikuti arus. Kru juga menyorot permukaan laut menggunakan senter.
Baca Juga: Pemeriksaan Hewan Kurban di Grobogan, Lima Sapi Cukup Umur dan Dua Sembuh dari LSD
Sekitar pukul 02.00 dini hari, Minggu (1/6), nahkoda kapal menghubungi kapal-kapal nelayan terdekat melalui radio untuk meminta bantuan pencarian. Empat kapal nelayan turut serta dalam upaya tersebut.
Pukul 09.00 WIB, nahkoda melaporkan kejadian ini kepada pemilik kapal yang berada di Rembang.
Sekitar pukul 10.00 WIB, laporan tersebut diteruskan ke pihak berwenang. Petugas jaga segera meneruskan informasi ke Komandan Pos Angkatan Laut (Posal).
Karena kondisi korban yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut, nahkoda memutuskan untuk menghentikan pencarian pada pukul 18.00 WIB dan kembali berlayar menuju Pelabuhan Tasikagung, Rembang.
Kapal KM Jaya Makmur tiba di pelabuhan pada Senin, 2 Juni 2025 pukul 16.00 WIB. Kedua korban langsung dilarikan ke RSUD dr. R. Soetrasno Rembang.
Sementara seluruh awak kapal, termasuk nahkoda, dimintai keterangan oleh pihak Satpolairud Polres Rembang sekitar pukul 16.30 WIB.
Pihak kepolisian dan keluarga korban berharap pelaku segera ditemukan, baik dalam keadaan selamat maupun tidak, agar proses hukum dapat segera berjalan.
Pencarian lanjutan direncanakan dengan melibatkan instansi terkait seperti Basarnas dan TNI AL.
Baca Juga: Blora Menuju Kabupaten Organik: Sinergi Bupati dan NU Panen Raya Padi Organik
GRAFIS KRONOLOGI PEMBACOKAN:
-
Rabu, 14 Mei 2025: Kapal KM Jaya Makmur (GT 50) dinakhodai oleh Tulus bertolak dari Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung, Rembang. Jenis kapal: jaring tarik berkantong (JTB), dengan 16 awak kapal.
-
Sabtu, 31 Mei 2025 – Pukul 23.00 WIB: Saat ABK sedang istirahat di palka depan, dua ABK bernama Santoso dan M. Dany tiba-tiba diserang oleh M. Alfaridzi menggunakan bendo.
-
Pelaku kemudian kabur ke buritan kapal dan menceburkan diri ke laut. Kru sempat melempar pelampung, namun pelaku menjauh terbawa arus.
-
Pencarian dilakukan dengan bantuan kapal nelayan. Karena korban butuh penanganan medis, pencarian dihentikan pada Minggu sore dan kapal kembali ke darat.