Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Barongan Blora hingga Tari Gedruk Semarang Meriahkan Festival Nginguk Githok di Sumber Rembang

Vachri Rinaldy Lutfipambudi • Sabtu, 17 Mei 2025 | 16:19 WIB

 

RUTINAN: Penari tampil dalam acara Festival Nginguk Githok di Sekararum, Sumber.
RUTINAN: Penari tampil dalam acara Festival Nginguk Githok di Sekararum, Sumber.
REMBANG - Festival Nginguk Githok VII digelar lima hari berturut-turut di Sekararum, Sumber.

Momen ini menyuguhkan berbagai pertunjukan kesenian. Acara ini terlaksana mulai 13–18 Mei 2025.

Tahun ini, “Gegayuhan” diusung menjadi tema, yang memberikan makna harapan atau cita-cita.

Sehingga dengan Tema ini, warga desa diharapkan bisa membayangkan masa depan kampung mereka melalui pendekatan budaya dan tradisi.

“Gegayuhan diangkat sebagai tema untuk mengajak masyarakat desa membayangkan masa depan kampung mereka,” kata Yasin, Project Manager Nginguk Githok VII.

Warga Sekararum bersama SKRM Squad dan Kolektif Hysteria bergotong royong menyukseskan festival.

Ada berbagai kesenian yang disuguhkan.

Pertunjukan juga memadukan tradisi lokal dengan sentuhan seni kontemporer.

Warga di sana juga menjadi pelaku budaya melalui sumbangsih ide, tenaga, bahkan halaman rumah untuk dijadikan panggung seni.

Pembukaan festival dimulai dengan pameran seni lukis dari seniman lokal dan nasional.

Selain itu, juga ada pertunjukan tari baledolan, stand up comedy, dan penampilan Rebana Nada Dien.

Suasana semarak masih terasa di hari berikutnya. Kelompok seni dari berbagai daerah ikut meramaikan acara.

Seperti Barongan “Pandji Sabda Jagad” dari Blora, hingga Tari Gedruk “Prabu Erlangga” dari Semarang. (Vachri Rinaldy Lutfipambudi)

Editor : Ali Mustofa
#Tari Gedruk #festival nginguk githok #rembang #Budaya #Barongan Blora #tradisi