RADAR KUDUS - Hari Kartini adalah hari kelahiran Pahlawan Nasional Raden Ayu Kartini (RA. Kartini) yang diperingati sebagai hari besar nasional.
Hari ini memiliki makna yang sangat penting bagi bangsa Indonesia sejak ditetapkannya melalui Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964, yang menetapkan RA.
Kartini sebagai Pahlawan Nasional sekaligus tanggal 21 April sebagai peringatan Hari Kartini.
Namun, kita jangan sampai terjebak dalam euforia yang bersifat ceremonial dan terkesan menghambur-hamburkan biaya tinggi.
Apalagi di tengah kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja terkait efisiensi dari pemerintahan yang baru.
Harusnya kita patut prihatin dan bijak memaknai Hari Kartini. Marilah kita lihat dari perspektif yang lebih cerdas dan memiliki value.
Perlu kita ketahui bahwa alasan mendasar peringatan Hari Kartini yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada waktu itu pasti mengandung maksud supaya kita bisa menteladani nilai-nilai lebih serta semangat juang RA. Kartini.
Pahlawan seperti kita ketahui memiliki arti yang sangat dalam yaitu seseorang yang dengan berani berjuang untuk bangsa dan negaranya serta memiliki sifat-sifat suri tauladan.
Oleh karena itu, marilah kita berusaha melihat apa yang sebenarnya dilakukan maupun dicita-citakan oleh Kartini.
Beliau yang terkenal sebagai tokoh emansipasi menurut saya itu hanya peran sempit beliau, karena sebenarnya sosok Kartini adalah pejuang keadilan di segala lini.
Bahkan ia adalah orang yang sangat peka dengan ketidakadilan yang tidak pernah berpihak kepada rakyatnya.
Hal ini sangat relevan dengan masa sekarang, karena Kartini adalah sosok perempuan pada masa itu yang berani mengirimkan sebuah nota dinas kepada pejabat tinggi Hindia Belanda terkait kebijakan pajak dan aturan tentang candu.
Dimana pada masa sekarang ternyata masalah pajak dan candu sudah dianggap sebagai masalah sosial.
Pajak yang semakin mencekik rakyat, namun tidak untuk mensejahterakan rakyat tetapi malah dikorupsi dan ini dilakukan oleh aparat.
Sementara candu, pemerintah dari dulu sampai sekarang tidak pernah serius menanganinya seolah ada udang di balik batu, bahkan banyak ditemukanpenyalahgunaan oleh aparat pemerintahan.
Rakyat kecilpun dididik mencintai candu agar mereka ketergantungan dan mudah diperdaya.
Dari sinilah kita perlu melihat pesan Kartini bahwa ternyata seorang pemimpin belum mempunyai jiwa keningratan, karena menurut Kartini keningratan berpikir akan menjadikan budi pekerti seseorang.
Warisan Kartini secara fisik hanya berupa surat-surat, tetapi ia mewariskan etika akhlak dan bentuk karya nyata berupa pemikiran yang melampui jamannya.
Bahkan, akhlak yang diwariskan dapat menjadi panduan hidup kita.
Kartini dicatat dalam media barat sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi wartawati dan penulis buku skala internasional.
Maka tidak heran apabila kritik-kritik pedas terhadap pemerintah selalu ditulisnya.
Bukan hanya kritikan, akan tetapi beliau adalah pelopor prinsip ekonomi berbasis koperasi dan menjalankan sistem pemasaran yang handal. Semua yang dilakukannya semata-mata hanya demi kesejahteraan rakyat.
Lewat jalan yang pernah ditempuh Kartini juga mengajarkan kepada kita bahwa pentingnya sebuah tulisan, karena itu merupakan bukti konkret yang dapat menggugah hati siapapun, tidak terkecuali penjajah yang telah berabad-abad menguasai tanah air kita.
Melalui tulisan jugalah yang dapat mengobarkan semangat juang rakyat yang telah dijajah berabad-abad lamanya.
Melalui tulisan pulalah seluruh langkah perjuangannya yang mulia tersiar membahana ke penjuru dunia. Begitu penting arti dan fungsi sebuah tulisan yang dituangan oleh Kartini.
Kartini juga bukan orang yang suka dengan kemewahan, meskipun terlahir dari golongan bangsawan.
Bahkan, beliau selalu mencotohkan kesederhanaannya yang bersahaja.
Contohnyapada saat pernikahannya beliau juga tidak menggunakan riasan maupun aksesoris berlebih.
Oleh karena itu, peringatan Hari Kartini janganlah kita memaknainya dengan bersolek yang berlebihan apalagi lomba-lomba yang outputnya hanya menggambarkan sisi keglamouran perempuan.
Karena bagi Kartini perempuan adalah kiblatnya kehidupan maka jadilah perempuan yang bervalue. (*)
Penulis: Retna Dyah Radityawati, Kurator Museum RA Kartini Rembang
Editor : Ali Mustofa