Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Grebeg Tumpeng dan Tingkep Dewi Sri, Tradisi Kaleman Warga Pakis yang Tetap Lestari

Wisnu Aji • Minggu, 13 April 2025 | 23:47 WIB
JAGA TRADISI: Warga desa Pakis, Sale hadir di grebeg tumpeng dalam tradisi Kaleman yang dipusatkan di Sendang Kahuripan, Sabtu lalu (12/4)
JAGA TRADISI: Warga desa Pakis, Sale hadir di grebeg tumpeng dalam tradisi Kaleman yang dipusatkan di Sendang Kahuripan, Sabtu lalu (12/4)

REMBANG – Warga Desa Pakis, Kecamatan Sale, kembali menggelar tradisi Kaleman sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa.

Acara tersebut dipusatkan di Sendang Kahuripan, Sabtu (12/4), dan diwarnai dengan grebeg tumpeng serta tingkep Dewi Sri di sawah Satinggen.

Tradisi ini ditandai dengan tabuhan gong dan gamelan sebagai bagian dari upaya uri-uri kabudayan Jawi.

Kepala Desa Pakis Sale, Sholikin, menyampaikan bahwa tradisi Kaleman telah diwariskan secara turun-temurun di kalangan warga Pakis.

Baca Juga: Air Terjun Banyu Anjlok: Surga Tersembunyi di Somosari, Pilihan Wisata Air yang Masih Asri

Dalam setahun, terdapat dua tradisi utama yang dilaksanakan, yaitu Kaleman dan Gasdeso. Kaleman merupakan bentuk doa dan pengharapan dari para petani.

“Budaya ini dilakukan oleh semua petani sebagai tradisi ningkepi pari meteng (padi hamil).

Sementara Gasdeso adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah hasil panen yang diberikan dari bumi Pakis,” jelasnya.

Kaleman memiliki makna filosofis sebagai penggambaran Dewi Sri, sang Dewi Padi, yang sedang hamil.

Tradisi ini dimaksudkan agar padi yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, selamat, dan terbebas dari hama hingga masa panen tiba.

“Kedua tradisi itu ditandai dengan ditabuhnya gong dan gamelan sebagai sarat pelestarian budaya Jawa. Dulu digelar melalui pagelaran wayang kulit, kini digantikan dengan sandiwara ketoprak,” lanjut Sholikin.

Acara grebeg tumpeng dipusatkan di Sendang Kahuripan, satu-satunya sendang di Desa Pakis yang dimanfaatkan oleh sekitar 80 persen warga.

Sendang ini merupakan sumber air resapan yang tidak pernah kering dan berlokasi di sebelah balai desa.

Pemusatan acara di sendang tersebut juga mempertimbangkan nilai sejarahnya. Di tempat itu terdapat pohon suko yang diyakini sebagai peninggalan Mbah Suko, sesepuh yang pertama kali membuka wilayah Pakis.

Meski kini sudah mati, batang pohonnya masih dibiarkan berdiri setinggi tiga meter sebagai bentuk penghormatan.

“Tumpengan dilakukan oleh seluruh warga desa. Namun karena kondisi geografis desa yang naik turun, acara disentralkan di musala terdekat dari sendang,” ujarnya.

Selain grebeg tumpeng, juga digelar prosesi simbolis ningkepi padi, dengan perlengkapan seperti takir, telur, kembang boreh, uler-uler, serta aneka jajanan pasar.

Tahun ini pelaksanaan tradisi sedikit terlambat karena bertepatan dengan musim panen.

Hal ini disebabkan oleh keterbatasan dana swadaya dan padinya yang hamil bertepatan dengan bulan Ramadan.

Baca Juga: Grobogan Jadi Salah Satu Rute Kereta Api Jarak Pendek Favorit Buat Pemudik Lokal, Ini Alasannya

“Berdasarkan rapat dengan panitia dan sesepuh desa, akhirnya diputuskan pelaksanaan dilakukan setelah Ramadan, sambil mencari hari yang baik,” tambah Sholikin.

Ia pun menutup dengan harapan agar tradisi ini membawa berkah bagi desa.

“Dengan adat Kaleman ini, kami warga Pakis memohon kepada Allah SWT, semoga bumi Pakis menjadi bumi yang Lohjinawi, Ayem Tentrem, Kerto Raharjo. Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafur. Amiin,” pungkasnya. (noe)

Editor : Mahendra Aditya
#Grebeg Tumpeng #rembang #Tradisi Jawa #sale rembang #Tradisi Kaleman Warga Pakis #Tingkep Dewi Sri #Tradisi Kaleman