Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Klenteng Tjoe An Kiong Bersolek Menyambut Kirab Budaya Akbar di Lasem

Wisnu Aji • Jumat, 11 April 2025 | 23:50 WIB
ICONIK: Panitia usai mengecak sarpras, berjalan di sekitar monumen perjuangan laskar Tionghua dan Jawa melawan VOC 1740-1743 di halaman klenteng Tjoe An Kiong.
ICONIK: Panitia usai mengecak sarpras, berjalan di sekitar monumen perjuangan laskar Tionghua dan Jawa melawan VOC 1740-1743 di halaman klenteng Tjoe An Kiong.

REMBANG, Radar Kudus – Setelah lebih dari satu dekade berlalu, Lasem kembali bersiap menyambut Kirab Akbar Perayaan HUT YM Makco Thian Siang Sing Bo yang akan digelar pada 18–20 April 2025.

Acara ini bukan sekadar kirab budaya biasa, tapi menjadi simbol kebangkitan kembali warisan budaya Tionghoa-Jawa-Islam yang telah mengakar kuat di bumi Lasem, Rembang.

Klenteng Tjoe An Kiong, yang menjadi pusat acara, tengah dipercantik. Bangunan bersejarah di Jalan Dasun No. 19, Lasem, ini menjalani pengecatan ulang dan pembersihan menyeluruh—mulai dari altar utama hingga sudut-sudut klenteng yang menyimpan jejak panjang sejarah akulturasi budaya.

Baca Juga: Duh! Penataan Alun-Alun dan Taman Kartini Rembang Berpotensi Gagal Lagi, Kenapa?


Ritual Kembali Setelah 13 Tahun: Lebih Megah dan Bermakna

Kirab budaya ini terakhir kali digelar pada 22 April 2012. Kini, setelah 13 tahun, panitia yang dikoordinatori oleh Rudi Hartono selaku Sekretaris TITD Tri Murti Lasem, siap menyuguhkan pertunjukan spiritual dan budaya yang lebih megah.

“Ini bukan kirab biasa. Tahun ini kita mengikutsertakan Makco Thian Siang Sing Bo dari Xianlianggang, Putian, Tiongkok, yang dibawa oleh Madam Huang Xiu Qing pada November 2024,” ujar Rudi saat ditemui, Kamis (11/4).

Acara akan berlangsung selama tiga hari dengan rangkaian kegiatan yang padat dan penuh makna. Mulai dari kirab budaya, prosesi injak bara api pada malam 19 April, hingga talkshow dengan tokoh-tokoh nasional seperti Dahlan Iskan, Harjanto Halim, dan Novi Basuki.


Simbol Kebangkitan Budaya dan Peran Perempuan

Uniknya, perayaan HUT Makco Thian Siang Sing Bo tahun ini bertepatan dengan Paskah dan Hari Kartini.

Ini memberikan makna tambahan dalam konteks penghormatan terhadap perempuan dan spiritualitas.

Sosok Makco sebagai Dewi Samudra tidak hanya menjadi figur sentral dalam spiritualitas klenteng, tetapi juga melambangkan kekuatan perempuan dalam sejarah dan budaya Lasem.

Rudi menegaskan bahwa kehadiran Makco sejalan dengan peran tokoh-tokoh perempuan hebat dari Lasem, seperti Bhre Lasem, Nyai Ageng Maloka, hingga R.A. Kartini.

Semua ini menjadi bukti nyata bahwa Lasem memiliki jejak panjang dalam sejarah perjuangan dan spiritualitas perempuan.

“Kirab ini adalah bentuk penghormatan pada ibu, emak, anak perempuan, sekaligus warisan leluhur yang perlu kita jaga bersama,” ucap Rudi.


Akulturasi Tionghoa-Jawa-Islam dalam Satu Panggung Budaya

Lasem dikenal sebagai Kota Pusaka, Kota Batik, Kota Santri, bahkan disebut sebagai Tiongkok Kecil karena keberagaman budaya yang hidup harmonis di dalamnya.

Kirab ini menjadi wujud nyata akulturasi tiga budaya besar yang telah menyatu sejak ratusan tahun silam: Tionghoa, Jawa, dan Islam.

Klenteng Tjoe An Kiong sendiri merupakan salah satu klenteng tertua di Indonesia, dan praktik pemujaan Makco telah ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Dunia UNESCO sejak 2009, beriringan dengan pengakuan dunia terhadap Batik Indonesia.


Persiapan Matang: Dari Sarpras hingga Akomodasi Tamu

Panitia kirab telah bekerja selama berbulan-bulan menyiapkan acara ini.

Tidak hanya mempersiapkan pengecatan dan kebersihan klenteng, tetapi juga logistik teknis seperti konsumsi, dekorasi, pencahayaan, hingga akomodasi untuk tamu dari luar kota yang sudah dipesan sejak tiga bulan lalu.

Tak ketinggalan, monumen perjuangan Laskar Tionghoa dan Jawa melawan VOC (1740–1743) di halaman klenteng juga menjadi bagian dari perayaan.

Monumen ini akan diperesmikan Minggu pagi, sebelum kirab resmi dibuka. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa semangat kebangsaan dan persatuan sudah lama tumbuh di tanah Lasem.

Baca Juga: Innalillahi… Mantan Sekda Rembang Subakti Meninggal Dunia di Usia 64 Tahun, Sakit Apa?


Lasem: Potret Indonesia Mini dalam Bingkai Budaya

Rudi menambahkan bahwa Lasem adalah contoh sempurna toleransi dan keragaman yang telah hidup ratusan tahun di tengah masyarakat.

Tradisi, budaya, dan keyakinan yang berbeda tidak menjadi sumber konflik, melainkan harmoni yang terus dijaga.

“Melestarikan budaya bukan hanya soal pertunjukan atau seremonial, tapi soal kesungguhan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan relevan di zaman sekarang,” pungkas Rudi.


 Bukan Sekadar Kirab, Tapi Perayaan Jati Diri Bangsa

Kirab Akbar HUT Makco Thian Siang Sing Bo 2025 bukan hanya ajang budaya semata. Ia adalah momen kebangkitan spiritual dan budaya yang mempertemukan sejarah, akulturasi, dan peran perempuan dalam satu panggung Lasem.

Dengan segala kekayaan nilai yang terkandung di dalamnya, kirab ini layak menjadi sorotan nasional bahkan internasional.

Karena di balik tabuhan genderang dan lentera merah, tersimpan pesan besar: Bangsa ini besar karena keberagamannya, dan Lasem adalah salah satu cerminan terbaiknya.

Editor : Mahendra Aditya
#Klenteng Tjoe An Kiong #kirab budaya #Warisan Budaya Dunia UNESCO #Budaya Tionghoa #lasem #Makco Thian Siang Sing Bo #Perayaan HUT YM Makco Thian Siang Sing Bo