Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kelompok Repandec jadi Juara Festival Thong-Thong Lek 2025, Parade Musik Meriahkan Kota Rembang

Wisnu Aji • Sabtu, 29 Maret 2025 | 00:09 WIB
TAMPIL TERBAIK: Kelompok thong-thong lek Repandec menunjukan ketrampilan dan kreasi di depan panggung kehormatan. Satu sisi Bupati dan Wakil Bupati Rembang, Harno dan Hanies bersama forkompimda
TAMPIL TERBAIK: Kelompok thong-thong lek Repandec menunjukan ketrampilan dan kreasi di depan panggung kehormatan. Satu sisi Bupati dan Wakil Bupati Rembang, Harno dan Hanies bersama forkompimda

REMBANG – Festival Thong-Thong Lek 2025 kembali digelar dengan kemeriahan yang luar biasa.

Tahun ini, kelompok Repandec dari Desa Pandean, Rembang berhasil keluar sebagai juara pertama, mengalahkan 23 peserta lainnya dalam ajang yang menjadi tradisi tahunan masyarakat Kabupaten Rembang.

Repandec meraih nilai tertinggi, 280 poin, dari penilaian yang dilakukan oleh dewan juri.

Baca Juga: Dipastikan Berlangsung Meriah! Festival Thong-thonglek Keliling di Rembang Digelar Malam Ini, Catat Waktunya

Di posisi kedua, ada Ronggo Dhito dari Desa Tegaldowo, Gunem dengan 265 poin, sementara Gresita Reborn Tawangsari harus puas di tempat ketiga dengan 260 poin.

Di kategori juara harapan, Aremba Babadan menempati posisi pertama dengan 230 poin, diikuti New Gank Prat dari Desa Waru Rembang (220 poin) dan Gamurma Mondoteko (215 poin).

Kelompok thong-thong lek Repandec menunjukan ketrampilan dan kreasi di depan panggung kehormatan.
Kelompok thong-thong lek Repandec menunjukan ketrampilan dan kreasi di depan panggung kehormatan.

Kreasi Musik, Kostum, dan Harmoni Jadi Kunci Kemenangan

Festival Thong-Thong Lek tak sekadar parade musik, tetapi juga ajang kreativitas yang dinilai dari berbagai aspek.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang, Mutaqin, menyebut bahwa penilaian utama berfokus pada garapan musik, harmonisasi antara alat musik dan vokal, serta konsep kostum yang sesuai dengan tema.

"Dewan juri berasal dari akademisi, termasuk Dr. Putut, pengawas seni musik di Pati dan perancang busana dari Yogyakarta, Romadhona, yang menilai aspek kostum dan kerapian peserta," jelas Mutaqin.

Penampilan peserta tersebar di beberapa titik, termasuk panggung utama, panggung pendukung di Stadion Krida, serta juri pengamatan (tempel) yang memantau langsung jalannya festival dari berbagai sudut.

Para peserta tampil maksimal hingga pukul 01.07 WIB, dan seluruh peserta telah menyelesaikan rute sebelum pukul 02.00 WIB.

Hanya berselang 10-15 menit setelah garis finis, hasil penilaian langsung diumumkan kepada publik.

Bupati dan Wakil Bupati Rembang, Harno dan Hanies bersama forkompimda, anggota DPRD serta OPD melihat festival thong-thong lek.
Bupati dan Wakil Bupati Rembang, Harno dan Hanies bersama forkompimda, anggota DPRD serta OPD melihat festival thong-thong lek.

Antusiasme Warga dan Dukungan Pemerintah

Festival yang berlangsung di bulan Ramadan ini mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak, termasuk Bupati Rembang, Harno, yang menyampaikan apresiasi atas partisipasi masyarakat.

"Thong-thong lek adalah budaya kita. Saya mengimbau agar peserta tetap menjaga ketertiban dan keamanan selama festival berlangsung, agar tradisi ini terus berjalan tanpa gangguan," ujar Harno.

Dukungan juga datang dari Ketua DPRD Rembang, Abdul Rouf, yang menekankan bahwa Thong-Thong Lek bukan hanya ajang hiburan, tetapi juga tradisi yang bertujuan membangunkan masyarakat untuk sahur.

"Sebagai wakil rakyat, saya mendukung inovasi dan kreativitas peserta, tetapi harus tetap dalam batas yang wajar.

Karena itu, festival ini berprinsip 'No Miras, No Keributan, dan No Gegeran', agar tetap menjadi tradisi yang bermanfaat," tegasnya.

Rouf juga menyinggung soal anggaran festival yang akan dipertimbangkan kembali berdasarkan evaluasi acara.

"Kalau festival ini berjalan lancar, maka bisa dianggarkan lagi untuk tahun depan.

Tapi kalau ada insiden atau masalah, mohon maaf, tahun depan mungkin tidak ada festival lagi," tambahnya.

Baca Juga: Seru! 24 Grup Thong-Thong Lek di Rembang Adu Kreativitas Malam Ini

Festival yang Menghidupkan Ekonomi Rakyat

Selain menjadi ajang seni dan budaya, Festival Thong-Thong Lek juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat.

Puluhan ribu warga memadati sepanjang rute festival, memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM untuk menjajakan dagangan mereka.

Pedagang makanan, minuman, hingga suvenir khas Rembang terlihat laris manis sepanjang acara. Momentum ini menjadi peluang besar bagi ekonomi lokal, terutama bagi warga yang mencari penghasilan tambahan selama bulan Ramadan.

Namun, ada catatan yang harus diperbaiki untuk ke depannya, yaitu persoalan sampah.

Usai acara, banyak sampah berserakan di sepanjang jalan yang dilewati peserta.

Beruntung, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rembang langsung bergerak cepat dengan menerjunkan tim kebersihan untuk membersihkan lokasi agar kota tetap nyaman bagi masyarakat.

Thong-Thong Lek: Tradisi yang Harus Dilestarikan

Festival Thong-Thong Lek sudah menjadi bagian dari identitas budaya Rembang.

Dengan kombinasi musik perkusi, nyanyian, dan kostum khas, festival ini tak hanya menghibur, tetapi juga menguatkan tradisi lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Jika terus dikelola dengan baik, Thong-Thong Lek bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi bisa menjadi ikon budaya Rembang yang menarik perhatian wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah.

Jadi, siapkah Festival Thong-Thong Lek 2026 kembali hadir dengan lebih meriah? (noe)

Editor : Mahendra Aditya
#rembang #Festival Thong Thong Lek 2025 #juara Festival Thong Thong Lek 2025 #Festival Thong Thong Lek rembang #Festival Thong Thong Lek Keliling 2025