REMBANG – Banjir yang melanda jalur pantura Lasem-Sluke pada Sabtu (22/3) lalu kembali membuat SMPN 2 Lasem terendam air selama lebih dari 15 jam.
Genangan air setinggi 1 meter memenuhi halaman sekolah, sementara di dalam ruang kelas mencapai 80 cm.
Kondisi Banjir di SMPN 2 Lasem
Banjir kali ini lebih parah dibanding sebelumnya. Air mulai masuk ke halaman sekolah saat buka puasa dan masih menggenang hingga pagi hari.
Wakil Kepala SMPN 2 Lasem, Bambang Heru, mengungkapkan bahwa banjir ini berasal dari kiriman air dari desa Gowak dan Kajar di sebelah timur sekolah.
"Ini banjirnya besar. Biasanya air masuk sedikit lalu langsung surut. Kali ini lama, padahal sudah dibantu pompa air," kata Bambang saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus, Minggu (23/3).
Dampak Banjir pada Fasilitas Sekolah
Air banjir menggenangi hampir seluruh area sekolah, termasuk ruang kelas, ruang bimbingan konseling, unit kesehatan sekolah (UKS), laboratorium IPA, dan ruang OSIS.
Meski begitu, tidak ada kerusakan berarti karena peralatan dan barang-barang sudah diangkat ke tempat yang lebih tinggi.
"Tidak ada kerusakan. Kami sudah mengantisipasi dengan menaikkan semua barang. Minggu ini, kami bersama siswa-siswi akan melakukan kerja bakti membersihkan kelas," jelas Bambang.
Kunjungan dan Upaya Penanganan
Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Rembang, Isti Choma Wati, meninjau langsung kondisi sekolah pada Sabtu malam.
Ia tiba sekitar pukul 22.30 dan bertemu dengan penjaga sekolah serta Kepala SMPN 2 Lasem, Chrismastuti.
"Saya datang untuk memahami kondisi dan kebutuhan sekolah. Saat masuk, air sudah setinggi lutut orang dewasa.
Bahkan setelah air surut tengah malam, masih ada genangan setinggi 30 cm. Karakteristiknya, jika tidak dipompa, air akan terus menggenang," ujar Isti.
Isti, yang pernah menjabat sebagai kepala sekolah di SMPN 2 Lasem selama 7 tahun, memahami betul kondisi sekolah.
Ia menekankan bahwa penanganan banjir ini bukan hanya masalah fisik, tetapi juga psikologis. "Ini PR bersama.
Bukan hanya fisik, tapi juga psikis. Kecemasan dan kekhawatiran ini lebih menguras energi," tambahnya.
Langkah Selanjutnya
Sekolah diminta membuat laporan bencana ke Dinas Pendidikan untuk mencatat kerugian dan kebutuhan yang diperlukan.
"Kami akan mencari solusi bertahap untuk mengatasi masalah ini," kata Isti.
Data Penunjang:
-
Ketinggian banjir: 1 meter di halaman, 80 cm di dalam kelas.
-
Lokasi terdampak: 15 desa di Kecamatan Sedan, Lasem, Kragan, Sluke, dan Sarang.
-
Fasilitas sekolah yang tergenang: Ruang kelas, UKS, laboratorium IPA, ruang OSIS.
-
Upaya penanganan: Kerja bakti dan penggunaan pompa air.
Banjir yang terus berulang di SMPN 2 Lasem menunjukkan perlunya solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah genangan air.
Selain penanganan darurat seperti penggunaan pompa, perlu ada upaya pencegahan seperti perbaikan drainase dan sistem pengelolaan air.
Pemerintah daerah perlu segera mengevaluasi sistem drainase di sekitar sekolah dan wilayah terdampak.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah dan lingkungan juga diperlukan untuk mengurangi risiko banjir di masa depan.
Dengan kerja sama antara sekolah, dinas pendidikan, dan masyarakat, diharapkan masalah banjir di SMPN 2 Lasem dapat segera teratasi.
Langkah ini tidak hanya menyelamatkan fasilitas sekolah, tetapi juga memastikan proses pembelajaran dapat berjalan lancar. (noe)
Editor : Mahendra Aditya