Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Masjid Jami Lasem: Perpaduan Arsitektur Joglo, Rumah Gadang, hingga Samarkand yang Memukau

Vachri Rinaldy Lutfipambudi • Sabtu, 15 Maret 2025 | 22:51 WIB
KERAGAMAN: Bangunan Museum Masjid Jami Lasem yang memiliki atap seperti Rumah Gadang
KERAGAMAN: Bangunan Museum Masjid Jami Lasem yang memiliki atap seperti Rumah Gadang

REMBANG – Masjid Jami Lasem, yang terletak di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, bukan sekadar tempat ibadah.

Masjid ini adalah mahakarya arsitektur yang memadukan berbagai corak budaya, mulai dari tradisi Jawa, Minangkabau, hingga pengaruh Timur Tengah.

Dengan lokasinya yang strategis di pinggir jalan raya Pantura Rembang-Tuban, masjid ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan akulturasi budaya di tanah Jawa.

Perpaduan Arsitektur yang Unik

Saat memasuki kompleks Masjid Jami Lasem, pengunjung akan disambut dengan bangunan utama yang bergaya joglo, khas arsitektur Jawa.

Serambi luasnya memberikan kesan megah dan teduh. Namun, keunikan masjid ini tidak berhenti di situ.

Di samping bangunan utama, terdapat struktur tiga lantai dengan atap menyerupai rumah gadang, ciri khas arsitektur Minangkabau.

Abdullah Hamid, salah satu pengurus masjid, menjelaskan bahwa masjid ini telah mengalami beberapa fase renovasi.

"Mustaka (puncak atap) masjid ini adalah bagian tertua, dengan corak era Majapahit.

Mustaka ini terbuat dari gerabah dan sebelumnya dipasang di puncak bangunan. Sekarang disimpan di museum untuk dilestarikan," ujarnya.

Sejarah Panjang yang Tersimpan

Masjid Jami Lasem diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-16, menjadikannya salah satu masjid tertua di Indonesia.

Bukti sejarah ini terlihat dari berbagai prasasti dan ornamen yang ditemukan di dalam masjid.

Salah satunya adalah prasasti "dodo peksi" yang bertuliskan tahun 1716, menunjukkan adanya penambahan ruang pada masjid di era tersebut.

"Prasasti ini menunjukkan bahwa masjid ini telah mengalami beberapa fase renovasi.

Misalnya, di ruang mihrab terdapat prasasti dengan nama Pangeran Suraadipura tahun 1759, serta kaligrafi kayu bertahun 1825," jelas Abdullah.

Setiap fase renovasi, menurutnya, mencerminkan peran ulama dan tokoh masyarakat pada masanya.

Pengaruh Arsitektur Samarkand

Tidak hanya arsitektur lokal, Masjid Jami Lasem juga menampilkan pengaruh arsitektur Samarkand, Uzbekistan.

Hal ini terlihat dari desain kubah dan ornamen yang menghiasi bagian dalam masjid.

"Pada suatu fase, ruang tengah masjid dirancang dengan gaya Turki, lengkap dengan kubah. Namun, dalam renovasi terakhir, kami kembali ke bentuk joglo untuk mempertahankan ciri khas Jawa," kata Abdullah.

Selain itu, di lingkungan sekitar masjid, terdapat makam Mbah Sambu, seorang ulama besar yang makamnya didesain dengan arsitektur khas Samarkand.

"Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh budaya Timur Tengah dalam perkembangan Islam di Lasem," tambahnya.

Museum yang Menyimpan Khazanah Islam

Masjid Jami Lasem juga dilengkapi dengan museum yang menyimpan berbagai benda bersejarah, termasuk Al-Quran berukuran besar yang menjadi koleksi unggulan.

"Al-Quran ini adalah salah satu bukti kejayaan Islam di Lasem. Kami berusaha merawatnya dengan baik agar bisa dinikmati oleh generasi mendatang," ujar Abdullah.

Data Penunjang:

  1. Tahun Berdiri: Diperkirakan sejak abad ke-16.

  2. Arsitektur: Perpaduan joglo (Jawa), rumah gadang (Minangkabau), dan Samarkand (Uzbekistan).

  3. Prasasti: Ditemukan prasasti "dodo peksi" (1716), Pangeran Suraadipura (1759), dan kaligrafi kayu (1825).

  4. Koleksi Museum: Al-Quran berukuran besar dan mustaka gerabah era Majapahit.

Warisan Budaya yang Tetap Lestari

Masjid Jami Lasem bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol akulturasi budaya dan sejarah panjang Islam di Indonesia.

Dengan perpaduan arsitektur yang unik dan khazanah sejarah yang kaya, masjid ini layak menjadi destinasi wisata religi dan budaya.

"Kami berharap masjid ini terus menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan, sekaligus menjaga warisan budaya nenek moyang kita," pungkas Abdullah.

Keberadaan Masjid Jami Lasem mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan warisan budaya dan sejarah, terutama di tengah arus modernisasi yang kian deras.

Masjid ini adalah bukti nyata bahwa keragaman dan toleransi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia.(*)

Editor : Mahendra Aditya
#Masjid Jami lasem #jelajah masjid #Museum Masjid Jami Lasem #wisata religi #masjid unik #lasem