REMBANG – Menjelang Ramadan, permintaan sarung batik tulis Lasem melonjak drastis.
Para perajin batik di berbagai daerah, termasuk di Batik Sranti, Desa Sendangagung, Kecamatan Pamotan, mulai disibukkan dengan pesanan yang sudah masuk sejak lima bulan lalu.
Ambarwati, pemilik Batik Sranti, mengungkapkan bahwa stok di showroomnya sudah habis karena setiap lembar kain yang selesai langsung dikirim kepada pemesan.
Baca Juga: Jalur KA Gubug-Karangjati Jebol Lagi! Sejumlah KA Batal Beroperasi, Ini Upaya KAI!
“Kami sudah menerima pesanan sekitar seribu sarung. Setiap selesai produksi, langsung diambil untuk dipasarkan,” ujarnya.
Saat Radar Kudus mengunjungi lokasi, para perajin tampak teliti menyanting kain dan menggambar pola sesuai pesanan.
Sarung batik tulis Lasem dari Batik Sranti tetap mempertahankan pakem klasiknya, namun pembeli bisa meminta motif khusus sesuai keinginan.
Harga sarung bervariasi, mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 3 juta per lembar, tergantung tingkat kerumitan motif dan pewarnaannya.
Baca Juga: Residivis Penipuan Modus Titip Uang di Toko Kembali Dibekuk
Dari Tradisi Khitanan hingga Pakaian Dinas
Sarung batik tulis Lasem sejak dulu identik dengan momen-momen sakral, seperti khitanan.
Sony, desainer motif di Batik Sranti, menjelaskan bahwa motif Tiga Negeri menjadi pilihan utama masyarakat saat prosesi sunatan anak laki-laki.
“Dulu, kalau anak mau khitan, pasti pakai sarung motif Tiga Negeri,” ungkapnya.
Kini, tren sarung batik tulis Lasem semakin berkembang. Selain untuk acara adat dan keagamaan, sarung batik juga telah diadopsi menjadi pakaian dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang.
Bahkan, beberapa daerah di luar Rembang mulai memesan motif khusus yang menggambarkan identitas daerah mereka.
Salah satu contoh pesanan khusus datang dari Blora, di mana pelanggan meminta motif batik yang menampilkan ikon khas daerahnya.
“Kami menyisipkan gambar merak sebagai satwa endemik Blora, tetapi tetap mempertahankan ciri khas batik Lasem,” jelas Sony.
Dengan meningkatnya permintaan, perajin batik di Rembang semakin optimis bahwa batik tulis Lasem tidak hanya menjadi warisan budaya yang lestari, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan tren modern. (VAH)