REMBANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai diuji coba di sejumlah sekolah di Kabupaten Rembang.
Antusiasme siswa cukup tinggi, tetapi beberapa kendala masih menghambat pelaksanaannya, seperti keterlambatan distribusi dan minimnya fasilitas makan.
Pada Senin (17/2), program ini diterapkan di dua kecamatan, yakni Lasem dan Sluke.
Radar Kudus memantau langsung di SDN 1 Soditan, Lasem dan SMPN 1 Sluke. Meski disambut positif, ada beberapa catatan yang perlu diperbaiki ke depan.
Daftar Sekolah Penerima MBG di Rembang
Program MBG di Rembang melibatkan dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni SPPG Mitra Mandiri di Sumbergirang, Lasem dan SPPG Mitra Mandiri di Pangkalan, Sluke.
Berikut daftar sekolah yang menjadi sasaran uji coba:
???? SPPG Pangkalan – Sluke (1.485 siswa):
-
MTS Masda Sluke: 368 siswa
-
SMPN 1 Sluke: 437 siswa
-
SDN Sluke: 190 siswa
-
SDN Trahan: 131 siswa
-
SDN Jatisari: 165 siswa
-
SDN Pangkalan: 115 siswa
-
MI Al-Falah Dukuan: 78 siswa
???? SPPG Sumbergirang – Lasem (897 siswa):
-
SD Aisyiyah Multi Lingual Lasem: 29 siswa
-
SMP Muhammadiyah Lasem: 22 siswa
-
SMK Muhammadiyah Lasem: 61 siswa
-
MI Ash-Sholatiyah: 164 siswa
-
SDN 1 Sumbergirang: 175 siswa
-
SDN Soditan: 358 siswa
-
SDN Ngemplak: 88 siswa
Antusiasme dan Kendala di Lapangan
Di SDN 1 Soditan, Lasem, makanan mulai dibagikan pukul 09.00 WIB. Menu yang disediakan berupa nasi putih, ayam, tempe, tumis wortel, jeruk, dan susu kotak.
Anak-anak terlihat gembira dan menikmati makanan dengan lahap.
Salah satu siswa kelas 2, Muhammad Ahsan, mengungkapkan kegembiraannya.
"Menunya ada sayuran, lauk pauk, buah, dan susu. Saya makan habis bersama teman-teman," katanya.
Namun, pihak sekolah menyoroti jadwal pembagian makanan yang belum sesuai dengan kebiasaan siswa.
Kepala SDN 1 Soditan menjelaskan bahwa anak-anak di sekolah ini sudah terbiasa sarapan sejak pukul 07.00 WIB.
"Saat MBG dibagikan pukul 08.30 atau saat istirahat, anak-anak jadi bingung, apakah sarapan di sekolah atau di rumah dulu," ujarnya.
Sementara itu, di SMPN 1 Sluke, suasana cukup meriah.
Begitu makanan tiba, siswa-siswa menyambutnya dengan yel-yel dan meneriakkan nama Presiden Prabowo Subianto.
"Terima kasih Pak Prabowo!" seru mereka kompak.
Namun, ada kendala signifikan dalam distribusi.
Seharusnya makanan tiba pukul 09.00 WIB, tetapi kendaraan pengangkut baru sampai pukul 10.17 WIB. Akibatnya, jadwal makan siswa ikut molor.
Siswa kelas VII B, Anang, mengaku terbantu dengan MBG karena belum sempat sarapan di rumah. Namun, ia juga mengalami kendala.
"Senang ada program ini. Tapi tadi lupa bawa air minum dan sendok. Jadi terpaksa minumnya pakai susu," ujarnya.
Harapan Perbaikan ke Depan
Kepala Bidang Pembinaan SMP, Isti Choma Wati, menilai bahwa secara umum program MBG sangat bermanfaat, tetapi ada beberapa hal yang harus dibenahi.
"Ada beberapa kendala yang perlu diperbaiki.
Pertama, makanan belum disertai air minum, jadi bisa disosialisasikan agar siswa membawa botol minum sendiri.
Kedua, alat makan seperti sendok dan garpu juga perlu dibawa oleh siswa. Ketiga, jadwal distribusi perlu diperbaiki agar tidak molor," sarannya.
Meskipun masih ada kendala teknis, program ini tetap disambut baik oleh pihak sekolah dan siswa.
Ke depan, diharapkan distribusi makanan lebih lancar dan fasilitas pendukung lebih lengkap agar manfaat MBG benar-benar maksimal bagi anak-anak di Rembang. (noe)
Editor : Mahendra Aditya