REMBANG – Abrasi di Pantai Caruban, Lasem, semakin parah. Hingga kemarin, bibir pantai telah terkikis sekitar 10 meter.
Kondisi ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak besar pada perekonomian para pelaku pariwisata di kawasan tersebut.
Pantai Caruban kini tidak lagi terlihat seperti destinasi wisata yang indah.
Bibir pantai ditutupi tumpukan karung-karung yang digunakan warga sebagai tanggul sementara untuk mencegah ombak menerjang bangunan warung dan fasilitas lainnya.
Gazebo yang biasa digunakan pengunjung untuk bersantai pun terlihat rusak.
Turiyono, Humas BUMDes Bakti Mulya yang mengelola wisata Pantai Caruban, menyatakan bahwa abrasi tahun ini adalah yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Biasanya, abrasi terjadi pada musim kemarau, namun tahun ini, gelombang tinggi juga terjadi saat musim hujan.
Beberapa waktu lalu, ketinggian ombak bahkan mencapai tiga meter, melampaui tanggul yang dibuat warga.
Dampak abrasi ini sangat terasa bagi pariwisata di Desa Gedongmulyo, Lasem.
Pendapatan wisata turun drastis, mengganggu kenyamanan pengunjung, dan mengurangi jumlah wahana wisata seperti gazebo, ayunan, jungkat-jungkit, dan ATV.
“Banyak pohon cemara roboh, dan warung-warung sepi pengunjung,” ujar Turiyono.
Pendapatan tiket pada 2023 mencapai Rp 100 juta, namun pada 2024 hanya menyentuh Rp 50 juta. “Perbandingannya sangat jauh,” tambahnya.
Ika Riskawati, salah satu pedagang di Pantai Caruban, juga merasakan dampaknya.
Menurutnya, abrasi yang terjadi setiap tahun terus menggerus bibir pantai.
“Kalau tidak ada angin dan gelombang, pengunjung bisa ramai, dengan pendapatan harian sekitar Rp 700-800 ribu. Tapi saat abrasi, pendapatan hanya Rp 100-200 ribu,” ungkapnya. (vah/ali)
Editor : Ali Mustofa