Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pantai Caruban Rembang Terkena Abrasi hingga Terkikis 10 Meter, Omzet Pariwisata Terjun Beban, Ini Tanggapan Penggelola

Vachri Rinaldy Lutfipambudi • Rabu, 12 Februari 2025 | 16:25 WIB

 

PENANGANAN SEMENTARA: Warga sekitar pantai memasukkan pasir ke dalam karung untuk menahan ombak, agar abrasi tidak meluas baru-baru ini.
PENANGANAN SEMENTARA: Warga sekitar pantai memasukkan pasir ke dalam karung untuk menahan ombak, agar abrasi tidak meluas baru-baru ini.

REMBANG – Abrasi di Pantai Caruban semakin parah. Sampai dengan Selasa, 11 Februari 2025, bibir pantai sudah terkikis sekitar 10 meter.

Kondisi ini memberikan dampak ekonomi pelaku pariwisata juga mengalami kemerosotan.

Pantai Caruban sekan sudah tidak terlihat seperti pantai wisata yang elok. Kondisi bibir sudah ditambal dengan tumpukan karung-karung.

Benda itu dipakai warga sebagai tanggul sementara, daripada tersapu ombak hingga bangunan warung yang ada di sekitar.

Gazebo yang biasa dipakai bersantai juga tampak mleyot. Humas Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bakti Mulya Turiyono yang mengelola wisata Pantai Caruban mengatakan, abrasi tahun ini merupakan yang terparah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sebab, biasanya abrasi terjadi saat musim kemarau. Sedangkan tahun ini ketika musim hujan pun juga terjadi ombak tinggi. Beberapa waktu lalu, ketinggian ombak sempat mencapai tiga meter. Melebihi tanggul yang dibuat warga.

Kondisi seperti ini juga memberikan dampak ekonomi bagi wisata yang terletak di Desa Gedongmulyo, Lasem ini. Imbasnya, pendapatan wisata turun drastis.

Dia menyadari kalau hal ini juga mengganggu kenyamanan pengunjung. Beberapa wahana wisata di sini juga terus berkurang. Seperti gazebo yang roboh, ayunan, jungkat-jungkit, dan ATV.

”Karena dipandang kurang enak, banyak pohon cemara yang roboh. Pemilik warung di sini (Pantai Caruban, Red) mengeluh semua karena sepi,” katanya.

Jika melihat pendapatan tiket, sepanjang 2023 bisa mencapai Rp 100 juta. Namun pada 2024, hanya sampai Rp 50 juta. ”Yang pasti perbandingannya jauh,” katanya.

Ika Riskawati, salah satu pedagang di Pantai Caruban juga merasakan dampaknya. Apalagi abrasi terjadi setiap tahun yang selalu menggerus bibir pantai.

”Kalau tidak ada angin, tidak ada gelombang ya ramai. Kalau ramai ada masuk 100-an (pengunjung), sehari hasil penjualan bisa Rp 700 hingga 800 ribuan per hari. Setelah ada abrasi hanya Rp 100 sampai 200 ribu setiap hari,” ungkapnya.

Ia bersama pedagang lain juga harus merogoh kocek pribadi untuk membuat tanggul sementara demi menyelamatkan warung. ”Biayanya sekitar Rp 3 juta sampai dengan Rp 7 juta,” imbuhnya. (vah/lin)

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#pemkab rembang #rembang #abrasi pantai