REMBANG – Kesulitan mendapatkan LPG 3 kilogram kini dirasakan warga Desa Pamotan, Rembang.
Kebijakan distribusi baru yang mengharuskan pangkalan sebagai titik salur terakhir membuat warga tak lagi bisa mendapatkannya di warung-warung terdekat.
Sebagai alternatif, beberapa warga mulai memanfaatkan biogas untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Selama ini, warga Desa Pamotan terbiasa membeli LPG di pengecer yang lebih dekat dengan rumah mereka.
Namun, setelah kebijakan baru diterapkan, mereka harus pergi ke pangkalan yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer.
Hal ini tentu menyulitkan, terutama bagi warga yang tidak memiliki kendaraan atau lansia yang tinggal sendiri.
“Banget sulit. Biasanya ada di warung-warung kecil, sekarang sudah tidak ada,” keluh Maskur, salah satu warga Desa Pamotan.
Maskur mengaku kesulitan mendapatkan LPG selama beberapa hari terakhir. Hingga kemarin, ia bahkan belum bisa membeli tabung baru.
Beruntung, di rumahnya terdapat kompor kecil yang terhubung dengan biogas, hasil dari program pemerintah desa.
Sekitar 100 meter dari rumahnya, terdapat kandang sapi yang menjadi sumber produksi biogas.
Kotoran ternak diolah menjadi bahan bakar yang kemudian dialirkan ke rumah-rumah warga.
Program ini baru berjalan beberapa bulan dan masih dalam tahap percobaan, dengan 11 rumah tangga sebagai penerima manfaat.
Menurut Maskur, biogas cukup membantu dalam menghemat pemakaian LPG. “Ya lumayan membantu, kadang-kadang masih pakai LPG juga.
Tapi kalau ini (biogas) lancar, lebih hemat. Biasanya satu bulan pakai dua tabung, sekarang hanya sekitar satu setengah tabung,” ungkapnya.
Kepala Desa Pamotan, A. Masykur Ruhani, menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya mengenalkan biogas sebagai solusi hemat energi bagi warga.
“Saat ini kami gratiskan dulu, sekaligus mensosialisasikan ke masyarakat bahwa gas ini aman digunakan,” jelasnya.
Ia juga memahami keresahan warga yang sulit mendapatkan LPG di warung-warung terdekat.
“Saya lihat tadi pagi ada warga tua yang harus mengambil LPG di pangkalan. Kasihan juga kalau harus berjalan jauh sekitar 1,5 kilometer,” imbuhnya.
Dampak dari kebijakan distribusi ini juga dirasakan para pengecer. Salah satu pengecer di Rembang mengaku sudah tidak bisa mendapatkan pasokan LPG 3 kilogram lagi.
Sebelumnya, ia bisa mendapatkan sekitar 10 tabung per minggu untuk dijual ke tetangga sekitar.
“Saya biasanya hanya menjual ke tetangga kanan kiri saja. Sekarang sudah tidak bisa lagi,” tuturnya.
Di sisi lain, pangkalan LPG di Kecamatan Rembang menegaskan bahwa mereka hanya melayani pembelian langsung oleh warga, tanpa menjual ke pengecer.
Hal ini sesuai dengan aturan baru yang mewajibkan distribusi langsung ke masyarakat.
Meski ada keluhan dari warga, hingga saat ini belum ditemukan antrean panjang di pangkalan LPG Rembang.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Dindagkop UKM) Rembang, Mahfudz, memastikan bahwa distribusi LPG tetap berjalan sesuai jadwal.
“Pengiriman sudah terjadwal, dalam satu minggu ada dua kali distribusi,” terangnya.
Dengan situasi ini, warga Desa Pamotan dihadapkan pada pilihan: tetap bergantung pada LPG dengan keterbatasannya, atau mulai beralih ke biogas sebagai solusi jangka panjang.
Apakah inovasi biogas ini akan semakin diterima oleh masyarakat? Waktu yang akan menjawab.(vah)
Editor : Mahendra Aditya