Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Selama Sepekan, Ada Enam Nyawa Melayang Akibat Kecelakaan di Jalan Pantura Rembang, Ini Faktor Pemicunya

Wisnu Aji • Selasa, 4 Februari 2025 | 17:38 WIB
Photo
Photo

REMBANG – Enam nyawa melayang akibat kecelakaan di Jalan Pantura Rembang selama sepekan ini.

Kelelahan, sarana prasarana jalan kurang memadai menjadi pemicu tingginya kecelakaan lalu lintas.

Satlantas Polres Rembang mencatat ada lima tempat kejadian selama libur panjang akhir Januari lalu.

Kejadian di Pantura Kaliori satu orang meninggal dunia. Kemudian di Pertigaan Clangapan, Tireman Rembang, satu orang tewas akibat terlindas truk.

Selanjutnya di traffic light Jalan Pantura Pentungan, Rembang, anak berusia 9 tahun meninggal dunia.

Serta di Jalan RembangBlora tepatnya di desa Bulu, Mantingan, pasangan suami istri juga meninggal dunia setelah terlibat kecelakaan.

Kasatlantas Polres Rem bang, AKP Sugito, melalui Kepala Unit Penegakan Hukum (Gakkum) Satlantas, Ipda Rahmat Hersa Widiat moko menyebabkan tingginya angka kecelakaan selama sepekan lalu berdasarkan hasil evaluasi karena dipengaruhi pula dengan meningkatnya volume kendaraan di libur panjang Isra Mi’raj dan Imlek

”Dominan terjadi hari Kamis dan Jumat setelah hari besar Isra Mi’raj dan Imlek. Kemungkin juga banyak masyarakat melaksanakan liburan. Sehingga untuk kapasitas kendaraan meningkat," terang Hersa ditemui Jawa Pos Radar Kudus di ruang kerjanya, Kemarin (3/2).

"Ditambah lagi dengan cuaca baru musim hujan. Menyebabkan minimnya penglihatan pengendara ketika di jalan ditambah penerangan minim,” lanjutnya.

Ia menyebutkan seperti kecelakaan tunggal di Kaliori, hasil pemeriksaan kesalahan sendiri. Karena mengendarai di waktu dini hari, subuh.

“Faktor kelelahan dan mengantuk,” ungkapanya.

Kemudian di Kecamatan Bulu dua kejadian. Laka tunggal di Bulu keterangan tidak ada hambatan terkait kapasitas kendaraan banyak, tapi diduga mengantuk.

Saling senggolan dengan lawan. Akhirnya jatuh, meninggal.

”Lalu TKP Mantingan me nyebabkan dua korban meninggal. Setelah diselidiki pengakuan sopir dan kernet mengantuk,” terangnya.

Kejadian di Clangapan antara truk tronton box dan sepeda motor. Dari hasil evaluasi pertama terkait sistem lampu merah.

Sistem dari barat ke timur tidak mungkin lampu hijau berbarengan. Tidak mungkin merah berbarengan. Pasti ada saat ketika arah Pamotan merah, arah Surabaya hijau.

“Orang Rembang paham mengambil jalur sesuai peruntukan. Ketika belok kanan mengambil lajur mana, ingin lurus ambil lajur mana. Keluhan masyarakat terkait sistem lampu merah. Itu bukan wewenang kepolisian, tapi dari Dishub,” ungkapnya.

Namun di jalan pantura tidak hanya orang Rembang yang lewat.

Orang seluruh pulau Jawa baik MerakBanten sampai Banyuwangi perbatasan Jawa Timur-Bali semua orang pasti melewati.

“Dan benar saja pengakuan sopir box baru pertama kali lewat jalur utara. Sebelumnya biasanya melewati selatan Blora-Pamotan,” ungkapnya.

Berbeda dengan kejadian di Pentungan. Keluhan masyarakat bukan di lampu merah, tapi kondisi jalan.

Kondisinya pas di persimpangan kondisinya benar-benar jalan berlubang, hal itulah yang menyebabkan pengakuan sopir mengambil lajur kiri.

Dimana lajur kiri seharusnya untuk sepeda motor ataupun kendaraan kecil, bukan peruntukan tronton box atau truk.

Karena lajur kanan yang tengah setelah lampu traffi c light jalannya jelek. Kemudian mengambil lajur kiri.

Sebenarnya ada tiga kendaraan berderet. Satu kendaraan paling depan sudah benar di lajur kanan. Dua kendaraan di belakangnya mengambil lajur kiri. (noe/ali)

Editor : Ali Mustofa
#meninggal #rembang #truk tronton #Mengantuk #jalan pantura #kecelakaan