REMBANG – Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambien (SPKUA) di Kabupaten Rembang mengalami kendala teknis.
Mesin pemantau kualitas udara yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat ini tidak berfungsi maksimal akibat kerusakan pada blower pendinginnya.
Padahal, alat tersebut masih dalam masa uji coba.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rembang, Taufik Darmawan, membenarkan adanya permasalahan ini.
"Betul, saat ini sedang dilakukan perbaikan blower pendingin SPKUA," ungkapnya saat dihubungi Radar Kudus, Selasa (16/1).
Ia menjelaskan, kasus serupa juga terjadi di beberapa daerah lain yang menggunakan mesin sejenis.
"Karena masih dalam masa trial dan pemeliharaan, masalah seperti ini cukup umum. Rata-rata kerusakannya pada blower pendingin. Secara nasional, SPKUA untuk 2024 memang belum sepenuhnya bisa digunakan," ujarnya.
Meski blower pendingin rusak, Taufik memastikan mesin masih dapat membaca data kualitas udara.
Namun, data tersebut memerlukan kalibrasi ulang agar akurasinya terjamin.
DLH Rembang telah beberapa kali berkoordinasi dengan vendor penyedia alat dan tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menangani masalah ini.
"Spare part blower yang rusak sudah tiba, dan tim DLH Rembang sedang mencoba memperbaikinya dengan arahan dari vendor. Proses perbaikannya tidak memakan waktu lama," tambahnya.
Namun, Taufik menegaskan bahwa aktivasi SPKUA secara nasional masih harus menunggu kesiapan unit di daerah lain.
"Kami berharap perbaikan ini segera selesai agar stasiun pemantau udara dapat beroperasi optimal dan memberikan data yang akurat," pungkasnya.
Masalah ini menjadi perhatian serius mengingat pentingnya SPKUA untuk memantau kualitas udara di tengah isu pencemaran lingkungan yang semakin mengemuka. (noe/khim)
Editor : Abdul Rokhim