Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bikin Heboh, Prasasti Tionghoa di Pancur Rembang Diduga Sudah Ada Sejak 1800-an

Vachri Rinaldy Lutfipambudi • Jumat, 6 September 2024 | 03:11 WIB

 

CEK LOKASI: Tim BPK memantau temuan prasasti tionghoa di Warugunung, Pancur kemarin.
CEK LOKASI: Tim BPK memantau temuan prasasti tionghoa di Warugunung, Pancur kemarin.

REMBANG - Balai Pelestari Kebudayaan (BPK) telah terjun langsung ke lokasi temuan prasasti tionghoa di Kecamatan Pancur. Temuan ini diduga sudah ada sejak tahun 1800-an.

Diberitakan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, warga bersama komunitas sejarah di Lasem menemukan dua prasasti di Desa Warugunung, Pancur, beberapa waktu lalu. Lokasinya berada di area perkebunan jati.

Di sana, ada dua batu yang memiliki ukiran aksara tionghoa. Di sekitarnya juga ada makam tionghoa dan altar dewa bumi.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang telah melakukan identifikasi awal dan melaporkan dua temuan tersebut kepada BPK.

Kemarin (4/9), BPK telah mendatangi lokasi langsung. Kepala Pokja Penyelamatan dan Pengamanan BPK X Jawa Tengah Deny Wahyu Hidayat menyampaikan, kedua temuan tersebut merupakan batu yang penting. Sehingga diperlukan perawatan.

Kemarin, ia bersama Peneliti Sejarah Tionghoa Agni Malagina.

Berdasarkan hasil analisa, kata Deny, prasasti tersebut diduga sudah ada sejak tahun 1876. Diperkirakan, area di lokasi temuan dulunya merupakan tempat yang asri.

"Dulunya sangat sejuk, sangat indah. Bahkan diisi prasasti tersebut itu menggambarkan betapa indahnya alam. Suatu keharmonisan dalam kehidupan," jelasnya. Ia berharap masyarakat juga ikut menjaga bersama.

Sebelumnya Agni Malagina, peneliti sejarah tionghoa menyampaikan, isi dari prasasti pertama merupakan puisi yang berisi tentang fengsui. 

Yakni praktik geomansi sejak masa Tiongkok kuno.

"Biasanya mengenai pengaturan spasial, tempat, orientasi arah, menyelaraskan energi (qi) agar bisa menghasilkan suasana harmonis damai untuk penghuni atau pemilik tempat itu," katanya.

Agni sudah melakukan penelitian selama 25 tahun di berbagai Pecinan Nusantara dari Sumatera sampai Timor dan Sulawesi.

Ia mengaku baru kali ini menemukan puisi yang dipahat di batu utuh.

"Ini langka dan layak dan wajib dilindungi dengan UU Cagar Budaya," ujarnya. (vah/ali)

Editor : Ali Mustofa
#Dinbudpar #bpk #rembang #Pancur #cagar budaya #Altar Dewa Bumi #Prasasti Tionghoa