REMBANG - Dua prasasti tionghoa yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur akan dilakukan penelitian lebih lanjut.
Nantimya aksara akan didigitalisi, untuk proses analisis. Penelitian selanjutnya akan melibatlan para ahli.
Diberitakan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, pada Selasa (13/8) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang mendatangi lokasi untuk mengidentifikasi temuan prasasti di Desa Warugunung itu.
Sub Koordinator (Subkor) Sejarah, Museum dan Cagar Budaya Dinbudpar Rembang Retna Diah Radityawati telah melakukan pengukuran.
Diketahui, prasasti pertama memiliki tinggi 144 sentimeter, panjang 190 sentimeter, dan tebal 81 sentimeter.
Sementara, prasasti yang kedua panjangnya 216 sentimeter, tinggi 110 sentri meter dan tebalnya 105 sentimeter.
Kedua batu tersebut sama-sama memiliki ukiran aksara tionghoa.
Retna menyampaikan, untuk sementara pihaknya melakukan inventarisasi dan dokumentasi.
Selanjutnya, akan dilaporkan kepada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK).
"BPK ada tindak lanjut mau ke sini, untuk pembacaan atau pembersihan selanjutnya nanti akan dilakukan oleh tim ahli dari BPK ataupun ahli filolog aksara cina," jelasnya.
Retna menyampaikan, Dinbupar bertugas inventarisasi, pengamanan lokasi, serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.
"Karena ini objek yang diduga cagar budaya, jangan terlalu ter-publish dulu karena belum ada kajian lebih lanjut," katanya
Ia menilai ukuran prasasti ini cukup besar. Sehingga diharapkan para ahli bisa mengkaji lebih lanjut.
"Kami menunggu beberapa para ahli yang konsen di aksara cina ayo kita translitasi bareng-bareng," katanya.
Retna menyampaikan, proses pembersihan dan pembacaan prasasti nantinya akan dilakukan oleh tim ahli dari BPK ataupun ahli aksara tiongkok.
"Untuk pembacaan dan pembersihan selanjutnya nanti akan dilakukan oleh tim ahli dari BPK ataupun Filolog ahli aksara cina," katanya.
Setelah dianalisis nantinya aksara tiongkok yang ada di batu prasasti akan di-digitalisasi.
Sehingga pada prosea analisis selanjutnya, bisa berkoordinasi antar sesama ahli.
"Setelah dianalisis kami lebih untuk dibaca digital. Jadi lebih ke pengamanannya dulu, untuk analisis selanjutnya bisa koordinasi dengan beberapa filolog aksara cina," jelasnya. (vah)
Editor : Ali Mustofa