REMBANG - Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) akan turun ke Rembang untuk mengkaji temuan dua prasasti tionghoa di Desa Warugunung, Pancur, Rembang.
Tidak hanya itu, struktur talud kuno yang ditemukan di hutan Sale sekitar akhir 2023 lalu rencananya juga akan dipantau.
Diberitakan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, Kemarin (13/8) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang mendatangi lokasi untuk mengidentifikasi temuan prasasti di Desa Warugunung itu.
Sub Koordinator (Subkor) Sejarah, Museum dan Cagar Budaya Dinbudpar Rembang Retna Diah Radityawati telah melakukan pengukuran.
Diketahui, prasasti pertama memiliki tinggi 144 sentimeter, panjang 190 sentimeter, dan tebal 81 sentimeter.
Sementara, prasasti yang kedua panjangnya 216 sentimeter, tinggi 110 sentri meter dan tebalnya 105 sentimeter.
Retna menyampaikan, untuk sementara pihaknya melakukan inventarisasi dan dokumentasi.
Selanjutnya, akan dilaporkan kepada BPK.
"BPK ada tindak lanjut mau ke sini, untuk pembacaan atau pembersihan selanjutnya nanti akan dilakukan oleh tim ahli dari BPK ataupun ahli filolog aksara cina," jelasnya.
Retna menyampaikan, Dinbupar bertugas inventarisasi, pengamanan lokasi, serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.
"Karena ini objek yang diduga cagar budaya, jangan terlalu ter-publish dulu karena belum ada kajian lebih lanjut," katanya
Ia menilai ukuran prasasti ini cukup besar. Sehingga diharapkan para ahli bisa mengkaji lebih lanjut.
"Kami menunggu beberapa para ahli yang konsen di aksara cina ayo kita translitasi bareng-bareng," katanya.
Tidak hanya prasasti, Retna mengatakan, temuan struktur talud di Kecamatan Sale rencananya juga akan diteliti.
"Sale itu temuan November 2023. Bisa saja itu talud. Nanti sekalian BPK ada monitoring," katanya.
Diberitakan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, struktur batu bata yang diduga talud tersebut ditemukan oleh warga.
Dinbudpar Rembang juga telah terjun ke lapangan dan melaporkan temuan itu kepada BPK.
Temuan tersebut berada di pinggir anak sungai Ngawun, Kecamatan Sale.
Bentuknya berupa tumpukan batu bata. Diduga, dulunya merupakan talud.
Retna Dyah Radityawati menjelaskan, temuan tersebut diketahui setelah mendapat laporan dari komunitas pemerhati sejarah.
Lokasi temuan itu berada di tengah hutan Terongan, wilayah KPH Kebonharjo, Kecamatan Sale.
Setelah disurvei, Retna meyakini, temuan tersebut merupakan batu bata kuno
Diperkirakan struktur ini sudah ada sejak masa kerajaan Islam.
Panjang struktur tersebut sekitar 150 cm, tinggi 77 cm, dan lebar 85 cm.
Pihaknya juga sudah mensosialisasikan kepada pemangku hutan untuk membantu menjaga.
Editor : Abdul Rokhim