Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dugaan Prasasti Tionghoa di Pancur Rembang Berisi Puisi tentang Fengshui, Konon Temuan Langka di Indonesia!Begini Penjelasannya

Vachri Rinaldy • Jumat, 9 Agustus 2024 | 23:02 WIB
Pegiat dan peneliti sejarah tionghoa sedang mengidentifikasi temuan batu yang diduga prasasti di Desa Wurugunung, Kecamatan Pancur, Rembang baru-baru ini.
Pegiat dan peneliti sejarah tionghoa sedang mengidentifikasi temuan batu yang diduga prasasti di Desa Wurugunung, Kecamatan Pancur, Rembang baru-baru ini.

RADAR KUDUS, REMBANG – Temuan batu yang diduga prasasti bertuliskan huruf Tionghoa di Kecamatan Pancur merupakan puisi yang berisi tentang Fengshui.

Peneliti Sejarah Tionghoa menyebut temuan ini langka di Indonesia.

Awalnya, batu yang berada di Desa Warugunung, Kecamatan Pancur ini diketahui oleh warga setempat. Warga mengira bahwa batu tersebut sekadar bongpay.

Mendengar informasi tersebut, Danang Swastika, Pegiat Sejarah Lasem langsung mendatangi lokasi. Tepatnya, berada di sekitar Pertapaan Santi Badra.

Danang bilang, Bukit Tapaan Santibadra adalah tempat bersejarah yang tertulis dalam buku Carita Sejarah Lasem (CSL).

Dulu, tempat tersebut digunakan untuk mengajar dan olah spiritual para tokoh-tokoh di Lasem. 

Setelah melihat langsung batu tersebut, ia menilai, bukan sekadar bongpay. Namun, ada dugaan mengarah pada prasasti. 

Saat ini, dia sudah melaporkan temuan tersebut kepada pemerintah desa setempat dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang agar bisa diteliti lebih lanjut.

Dari temuan itu, ia juga teringat sekitar 2019 silam, tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) pernah memeriksa lumpang batu yang ditemukan tidak jauh dari lokasi batu yang diduga prasasti itu. 

Penampakan batu mirip prasasti yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur, Rembang.
Penampakan batu mirip prasasti yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur, Rembang.

Sehingga ada spekulasi bahwa di kawasan tersebut dulunya merupakan hunian kuno. ”Umpama batu (yang baru saja ditemukan) benar prasasti akan memperkuat adanya kampung di lembah tapaan. Sudah saya laporkan ke pihak desa dan Dinbudpar supaya ada tindak lanjut,” katanya. 

Temuan batu selebar sekitar 130 sentimeter dengan ketebalan sekitatar 50 sentimeter yang berukiran hutuf tiongkok itu pun menarik perhatian para pegiat sejarah.

Baca Juga: Tidak Disangka, Prasasti Tionghoa yang Ditemukan di Pancur Rembang Merupakan Puisi, Ini Isi dan Nama Penulisnya

Pada Kamis (8/8) kemarin, para pegiat dari Yayasan Lasem Heritage mencoba melakukan identifikasi prasasti itu.

Agni Malagina, peneliti sejarah Tionghoa yang juga ikut dalam mengidentifikasi temuan memastikan bahwa batu berukiran huruf tiongkok itu bukanlah bongpay. 

Tulisan-tulisan itu merupakan rangkaian kata-kata yang membentuk sebuah puisi. Memang, didalamnya tidak menyebutkan jelas kapan tulisan tersebut dibuat. 

Namun, di akhir tulisan terdapat sebuah nama, yang diperkirakan sosok yang menulis puisi tersebut. "Penulis puisinya namanya Mbah Suti (Lao Su Ti), di akhir (pada tulisan prasasti,Red)," katanya. 

Agni menjelaskan, bahwa puisi tersebut berisi tentang Fengshui, yang merupakan salah satu unsur kebudayaan tiongkok atau yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia.

”Nah fengshui ini praktik geomansi sejak masa Tiongkok kuno. Biasanya mengenai pengaturan spasial, tempat, orientasi, arah, menyelaraskan energi agar bisa menghasilkan suasana harmonis damai untuk penghuni atau pemilik tempat itu,” jelasnya.

Dalam puisi yang terpahat di batu itu, lanjut Agni, menggunakan format dan ritme puisi klasik yang menggambarkan alam dengan gunung dan sungai yang indah.

”Serta mengandung metafora dan simbol,” katanya.

PRASASTI: Batu mirip prasasti ditemukan di Desa Warugunung, Pancur.
PRASASTI: Batu mirip prasasti ditemukan di Desa Warugunung, Pancur.

Agni sendiri sudah 25 tahun melakukan penelitian pecinan di penjuru negeri. Seperti di Sumatra dan Sulawesi. Ia mengaku belum pernah menemukan puisi yang dipahat di batu secara utuh.

”Kalau biasanya puisi-puisi kuplet-kuplet itu diukir di struktur makamnya,” ujarnya.

”Kalau prasasti peristiwa penting dalam aksara Han ada beberapa di Indonesia. Tetapi puisi dipahat di batu dan area pemakaman saya kira ini satu satunya, langka,” tegasnya.

Batu pahatan seperti itu, bagi dia yang merupakan seorang peneliti merupakan temuan langka sehingga wajib dilindungi dengan Undang-undang Cagar Budaya. ”Layak dan wajib dilindungi dengan UU Cagar Budaya,” imbuhnya.

Orang-orang tionghoa di masa lampau memang memiliki kebudayaan mencatat yang tinggi. Menulis bagi mereka bukan hanya sekadar arsip, namun juga mengekspresikan tentang keindahan fisik dan non fisik.

Saat ini, ia masih mencoba mengkaji lebih dalam soal puisi tersebut. Sebab, menurutnya dalam tulisan tersebut masih menyimpan maksud dan pesan tertentu. 

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#Temuan Sejarah #sejarah #sejarah lasem #Pancur #Sejarah Rembang #lasem #Prasasti #Prasasti Tionghoa