Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tidak Disangka, Prasasti Tionghoa yang Ditemukan di Pancur Rembang Merupakan Puisi, Ini Isi dan Nama Penulisnya

Vachri Rinaldy • Kamis, 8 Agustus 2024 | 23:43 WIB
Penampakan batu mirip prasasti yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur, Rembang.
Penampakan batu mirip prasasti yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur, Rembang.

REMBANG - Isi dari tulisan pada prasasti tionghoa yang ditemukan di Desa Warugunung, Pancur Rembang sudah mulai terungkap. 

Tidak disangka, ukiran huruf-huruf tionghoa pada batu selabar sekitar 130 sentimeter itu merupakan sebuah puisi indah. 

Diberitakan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, batu tersebut ditemukan di Desa Warygunung, Pancur sekitar bukit tapaan Santi Badra. 

Lebarnya sekitar 130 sentimeter dengan ketebalan sekitar 50 sentimeter. Batu itu memiliki permukaan datar dengan ukiran huruf-huruf tiongkok.

Sebagian besar huruf juga masih terlihat jelas.

Danang Swastika, salah satu pegiat sejarah di Lasem menyampaikan, beberapa waktu lalu ia mendapatkan informasi dari warga sekitar tentang keberadaan batu itu. 

Awalnya, warga mengira hanya sekadar bongpay. 

Mendengar informasi tersebut, Danang pun mendatangi lokasi yang berada di sekitar bukit tapaan Santi Badra itu. 

Danang bilang, Bukit Tapaan Santibadra adalah tempat bersejarah yang tertulis dalam buku Carita Sejarah Lasem (CSL). 

Dulu, tempat tersebut digunakan untuk mengajar dan olah spiritual para tokoh-tokoh Lasem. 

Setelah melihat langsung batu tersebut, ia menilai, bukan sekadar bongpay. Namun, ada dugaan mengarah pada prasasti. 

Sebab, tulisan tiongkok tersebut terukir di atas batu alam.

Ia pun melaporkan temuan tersebut kepada pemerintah desa setempat dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang agar bisa diteliti lebih lanjut. 

"Kami laporkan ke pihak desa Warugunung, serta Dinas terkait untuk bisa dikomunikasikan dengan BPCB/BPK Jateng, sehingga bisa menguak informasi kesejarahan dan peristiwa masa lalu di kawasan Bukit Tapaan," katanya. 

Dari temuan itu, ia juga teringat sekitar 2019 silam, tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) juga pernah memeriksa lumpang batu yang ditemukan tidak jauh dari lokasi prasasti. 

 

Sehingga ada spekulasi bahwa di kawasan tersebut dulunya merupakan hunian kuno. 

"Umpama batu (yang baru saja ditemukan) benar prasasti akan memperkuat adanya kampung di lembah tapaan," ujarnya.

"Sudah saya laporkan ke pihak desa dan Dinbudpar supaya ada tindak lanjut," katanya. 

Pada Kamis (8/8), para pegiat dari Yayasan Lasem Heritage mencoba melakukan identifikasi prasasti itu. 

Agni Malagina, peneliti sejarah Tionghoa yang juga ikut dalam mengidentifikasi temuan memastikan bahwa batu berukiran huruf tiongkok itu bukanlah bongpay. 

Tulisan-tulisan itu merupakan rangkaian kata-kata yang membentuk sebuah puisi.

 

"Itu puisinya tentang fengshui, daerah yang bagus banget ideal buat makam," katanya. 

Memang, dalam ukiran tersebut tidak menyebutkan jelas kapan tulisan tersebut dibuat. 

Namun, di akhir tulisan terdapat sebuah nama, yang diperkirakan sosok yang menulis puisi tersebut. 

"Penulis puisinya namanya Mbah Suti (Lao Su Ti), di akhir (pada tulisan prasasti,Red)," katanya. 

Saat ini Agni sedang dalam proses menerjemahkan tulisan tersebut secara utuh. 

 

Editor : Ali Mustofa
#sejarah #rembang #puisi #Pancur #Sejarah Rembang #Prasasti #Prasasti Tionghoa