REMBANG — Setelah menjadi juara I lomba integrasi layanan terpadu (ILP) Provinsi Jawa Tengah (Jateng).
Posyandu Ngundi Lestari 1 di Desa Grawan, Kecamatan Sumber, maju tingkat nasional.
Kepala Dinkes Rembang, dr Ali Syofii menyampaikan saat ini Kementrian Kesehatan sedang melaksanakan transformasi kesehatan dalam rangka untuk visi menuju Indonesia emas 2045.
Transformasi kesehatan didukung enam pilar. Diantaranya mulai trasformasi layanan primer, rujukan, ketahanan kesehatan, jaminan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan dan teknologi kesehatan.
Dalam konteks layanan primer, maka pembangunan kesehatan lebih mengendepankan promotif, prefentif dengan tidak membiarkan kuratif rehabilitatif (pemulihan).
”Layanan primer puskesmas dan jaringanya akan digunakan bagaimana mencegah penyakit lebih dikedepankan. Sehingga dengan demikian masyarakat menjadi lebih sehat, tidak menjadi sakit. Angka kesakitan dapat diturunkan dengan demikian angka kematian,” kata Ali saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus di ruang kerjanya pada Kamis (1/8).
Selanjutnya puskesmas terintegrasi layanan primer (ILP). Artinya puskesmas di dalam layanan gedung dan luar gedung mengedepankan aspek mengendepankan promotif, prefentif dengan tidak membiarkan kuratif rehabilitatif (pemulihan). Juga bertugas mendeteksi dini penyakit dengan memanfaatkan jaringanya.
“Jaringan disini meliputi puskesmas pembantu (Pustu) dan posyandu yang akan menjadi ujung terdepan. Posyandu ujung terdepan layanan berhadapan masyarakat. Posyandu di lebur semula ada balita, remaja, lansia, pos pembinaan terpadu (posbindu) dan lain-lain sekarang dilebur posyandu yang terintegrasi,” terangnya.
Artinya, posyandu di desa tak hanya ada satu pelayanan. Tetapi melayani seluruh siklus hidup, mulai kehamilan, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia.
“Di sana mengadakan layanan kesehatan sederhana, deteksi dini dan skrining penyakit, kunjungan rumah, status kesehatan seluruh warga masyarakat di dukung pemantauan wilayah setempat. Intinya berbasis posyandu mengetahui seluruh status kesehatan masyarakat di wilayah kerja kira-kira satu RW atau dusun dan dilaporkan lebih atas di Pustu yang ada di tiap desa,” bebernya.
Sementara soal ILP di Kabupaten Rembang sudah mulai dilaksanakan terhitung mulai 1 April 2024.
“Kick off puskesmas, pustu, dan posyandu sudah melakukan uji coba. Di 17 puskesmas, 17 pustu dan 17 desa dengan 69 posyandu,” terangnya.
Ia menambahkan karena program nasional. Di Kabupaten Rembang ada satu posyandu yang diajukan dinilai oleh tim provinsi, yakni Posyandu Ngundi Lestari I, Desa Grawan, Sumber.
"Saat ini sedang proses penjurian penilaian tingkat nasional,” imbuhnya.
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Rembang, drg. Dini Nuraida menambahkan ILP tidak lepas dari sistem pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan di tingkat desa. Itu yang menjadi konsen di tingkat desa pun menyusun strategi.
”Kita punya inovasi forum kesehatan desa dalam rumah desa sehat (FKD dalam RDS) dan inofasi TELPONI atau Temokno, Laporno, lan Openi (Temukan, Laporkan, dan Rawat). Ini saling berkaitan semuanya,” imbuhnya.
Ia menyebutkan ILP merupakan strategis pemerintah bahwasanya program kesehatan lebih memprioritaskan kepada pencegahan (promotif dan prefentif). Untuk itu pemerintah mengadakan transformasi kesehatan.
Pertama transformasi layanan primer terdiri mulai penguatan layanan posyandu di tingkat desa yang mana dulu tidak berbasis siklus hidup.
“Sekarang siklus hidup. Jadi seluruh usia bisa dilayani disana. Dengan jadwal posyandu sebulan sekali,” ungkapnya.
“Harapanya dengan keberadaan posyandu dengan siklus hidup seluruh masyarakat bisa akses pelayanan posyandu. Kemudian apabila masyarakat belum bisa mendapatkan layanan, kader yang ada di posyandu ILP bisa mengadakan kunjungan rumah kepada sasaran,” pungkasnya. (*)
Editor : Abdul Rokhim