RADAR KUDUS, REMBANG - Sejarah menunjukkan Wilayah Kabupaten Rembang pernah disinggahi masyarakat Austronesia, kelompok ini disebut sudah ada sejah masa pra sejarah yang dipercaya sebagai nenek moyang orang Jawa.
Keberadaan masyarakat Austronesia diperkirakan lebih tua dari kelompok Wong Kanung yang konon tinggal di Pegunungan Lasem, Rembang dan Manusia Kalang yang berada di Hutan Kanupaten Blora ribuan tahun yang lalu.
Cerita tentang keberadaan masyarakat yang hidup pada masa sebelum Masehi memang menarik untuk ditelisik.
Di antaranya adalah kelompok masyarakat yang disebut dengan Wong Kanung.
Diberitakan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, Wong Kanung merupakan kelompok masyarakat yang tinggal di area Gunung Lasem ribuan tahun lalu.
Konon, kelompok tersebut lebih tua dari Manusia Kalang di Blora. Keberadaan Manusia Kalang di Blora jauh lebih tua dibandingkan dengan Samin. Mereka tinggal di hutan Blora ribuan tahun lalu.
Kelompok ini juga memiliki kebudayaan tinggi. Di antaranya ditandai adanya bekal kubur. Pengelola Rumah Artefak Blora, Lukman Wijayanto menyebut bekal kubur tersebut merupakan benda-benda yang di taruh dalam kubur saat Manusia Kalang meninggal.
Seperti peralatan pertanian, gerabah, perunggu, hingga emas.
"Ada bekal kubur dengan filosofi pelatakan dan jenisnya. Seperti alat pertanian, gerabah, hingga emas dan perunggu. Tergantung kastanya," tuturnya.
Cerita tentang keberadaan kelompok masyarakat yang hidup ribuan tahun lalu juga ada di wilayah Rembang.
Mereka dikenal dengan nama Wong Kanung. Ernantoro, pegiat sejarah Komunitas Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem mengatakan, Wong Kanung merupakan masyarakat yang hidup di pegunungan Lasem.
Ia mengatakan, bahwa keberadaan Wong Kanung di Lasem lebih dulu jika dibandingkan dengan dengan Manusia Kalang yang ada di Blora.
"Setelah Kanung, ada Kalang Blora ya Kalang Bojonegoro," katanya.
Ernantoro mengatakan, wong Kanung tinggal di wilayah Pegunungan Lasem yang hidup bergerombol membentuk satu kelompok.
"Orang dulu kan bergerombol. Otomatis kalau dulu ada kepala suku, kalau sekarang ya pak lurah. Cara mengumpulkan gimana kalau tidak ada kepala suku. Otomatis itu dari budaya," katanya.
Ternyata, jauh sebelum adanya kelompok masyarakat Kanung, wilayah pesisir Rembang juga pernah disinggahi bangsa Austronesia. "Austronesia lebih tua lagi," kata Ernantoro.
Mengutip buku Ekspedisi Sejarah Lasem yang ditulis oleh Tim Cendekia Menulis Club, pada salah satu bagian juga menyinggung tentang peninggalan Austronesia.
Bagian itu ditulis oleh Danang Swastika, Pegiat Sejarah Lasem, yang menyebutkan bahwa kerangka manusia pra-sejarah yang ditemukan di Rembang ternyata berusia 2.650 tahun.
Kerangka kepala manusia dan sejumlah tulang itu ditemukan di empat titik, di tebing sepanjang Pantai Leran.
Selain itu juga ditemukan kerangka di sekitar Pantai Binangun dan Plawangan. Namun, temuannya berbeda dengan yang ada di tebing Pantai Leran.
Masih dikutip dari buku tersebut, Tim Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta menegaskan ada tiga situs pekuburan manusia Austronesia yang terungkap yakni di Pantai Binangun Kecamatan Lasem, Leran Kecamatan Sluke, dan Pantai Tanjungan Kecamatan Kragan.
Pantai Utara Rembang diduga merupakan titik pendaratan pertama nenek moyang di Pulau Jawa pun, menjadi semakin kuat. Sekaligus menunjukkan bahwa sudah ada peradaban jauh sebelum Masehi.
Dalam buku Ekspedisi Sejarah Lasem itu, juga disebutkan bahwa Ras Austronesia merupakan manusia pra sejarah yang diyakini sebagai nenek moyang penduduk Pulau Jawa.
Balai Arkeologi akan melanjutkan penelitian asal-usul manusia pra-sejarah itu hingga tiba di Jawa.
Editor : Noor Syafaatul Udhma