Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hasil Survei BPS : Angka Pengangguran di Rembang Naik Jadi 2,6 Persen, Ini Penyebabnya

Vachri Rinaldy Lutfipambudi • Senin, 22 Januari 2024 | 18:07 WIB

 

BERSUARA: Para buruh sedang menggelar aksi terkait UMK beberapa waktu lalu.
BERSUARA: Para buruh sedang menggelar aksi terkait UMK beberapa waktu lalu.

 

REMBANG - Angka pengangguran Rembang gagal menduduki peringkat terendah di Jawa Tengah.

Berdasarkan survei, saat ini jumlahnya naik.

Salah satu faktornya adalah adanya perusahaan yang merumahkan karyawan karena sepinya orderan.

Kabar tentang sepinya order pada perusahaan padat karya ini memang sempat mencuat akhir tahun lalu.

Baca Juga: Maknyus! Lezatnya Soto Santan Khas Rembang dengan Toping Kuah Sate Srepeh, Cocok Disantap Saat Musim Hujan

Sejumlah karyawan sampai menggelar aksi karena terdampak putus kontrak.

Fenomena tersebut bisa jadi bagian dari dinamika angka pengangguran di Rembang.

Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Rembang, pada tahun 2023 angka pengangguran di Kota Santri naik jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pada 2022 lalu, pengangguran Rembang berada di angka 1,76 persen.

Jumlah ini, merupakan angka paling rendah di Jawa Tengah.

Namun, pada 2023, jumlah tersebut justru naik menjadi 2,6 persen.

Kepala BPS Rembang Iman Teguh menjelaskan, pihaknya mendapatkan angka tersebut berdasarkan survei angkatan kerja nasional (Sakernas).

Pihaknya menggunakan pendekatan sampel rumah tangga.

"Pada bulan Agustus tahun 2023 itukan Sakernas yang sampelnya untuk estimasi tingkat kabupaten. Hasil sakernas angka pengangguran di Rembang 2,60 Rembang," katanya.

Hal ini berarti terjadi peningkatan jumlah pengangguran di Rembang. Menurutnya, hal ini dipengaruhi karena adanya beberapa perusahaan yang mengurangi jumlah karyawan.

"Karena katanya permintaannya produksi menurun. Beberapa dirumahkan. Tidak di PHK, tetapi diminta tidak masuk kerja karena permintaan turun," katanya.

Faktor lainnya, kata dia, bisa jadi karena adanya bencana alam.

Seperti sawah yang kebanjiran sehingga petani tidak bisa bekerja.

Saat melakukan survei, pihaknya mengacu pada aktivitas sepekan terakhir dari responden.

"Kalau sepekan yang lalu tidak melakukan kegiatan yang mendapatkan penghasilan, itu secara konsep kategorinya menganggur," jelasnya.

BPS juga menyampaikan data tersebut kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang.

Menurutnya, saat ini perlu dilakukan survei lanjutan untuk mengetahui update terbaru di lingkungan kerja. Seperti kondisi perusahaan yang melakukan pengurangan karyawan.

"Kalau kondisinya sudah membaik mudah-mudahan ke depan kembali normal kembali," jelasnya. (vah/ali)

Editor : Abdul Rokhim
#pengangguran #orderan #rembang #naik #pabrik #angka