REMBANG - Semburan gas di Desa Pamotan belum bisa diprediksi kapan akan berhenti.
Meski demikian, kondisi ini diklaim tidak berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
Baca Juga: Pipa Sumur Bor Warga Pamotan Rembang Semburkan Api, Ini Kata Pertamina!
Diberitakan sebelumnya, penemuan semburan gas ini berawal pada Sabtu (23/9).
Saat itu, ada seorang warga yang mengebor sumur di dekat rumahnya yang berada di Dukuh Sridadi, Desa Pamotan.
Tanah itu dibor dengan kedalaman sekitar 50 meter.
Baca Juga: Belasan Pangkalan Gas di Rembang Dilaporkan Pertamina, Ini Gara-garanya!
Setelah selesai, malam harinya tuan rumah sedang bersantai di dekat sumur.
Saat hendak merokok dan menyalakan api, tiba-tiba api dari sumur langsung menyambar.
Baca Juga: Lebih dari Sepekan, Sumur Bor yang Semburkan Gas Metana di Pamotan Rembang Tak Kunjung Berhenti
Kepala Seksi (Kasi) Energi Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Sinung Sugeng Arianto menyampaikan, semburan tersebut bukan gas metana.
Ia menjelaskan, gas yang keluar dari sumur itu merupakan gas bumi atau termogenik.
Hal ini berbeda dengan gas metan atau gas rawa yang masuk dalam biogenik.
Baca Juga: Geger! Begini Kronologi Pipa Sumur Bor Semburkan Api di Pamotan, Rembang
"Itu masuk gas bumi, termogenik mas. Kalau metan atau gas rawa masuk biogenik. Kalau termogenik ranahnya Pertamina WKP Blok Randugunting," jelasnya.
Berdasarkan hasil analisis kecil, lanjut Sinung, di wilayah Rembang biasanya berkaitan dengan fenomena pembentukan gas bumi.
Sebagaimana yang terjadi di wilayah Blora maupun Grobogan yang merupakan cekungan belakang busur atau yang disebut back arc basins.
Baca Juga: Gelar Razia Gabungan, Petugas Temukan Ratusan Batang Rokok Ilegal dan Dugaan Penjualan Cukai Bekas di Rembang
Di daerah Pamotan, lanjut dia, juga berkembang rekahan dan sesar-sesar aktif sehingga memungkinkan gas-gas yang terbentuk di dalam cekungan pengendapan tersebut merembes keluar. Atau, terjebak di lapisan batuan yg lebih atas.
"Manifest gas yang terjebak di lapisan atas tersebut kadang-kadang saat pengeboran sumur air tanah oleh penduduk menyembur keluar dan kalau ada api bisa tersulut," jelasnya.
Baca Juga: Dalam Sebulan, 30 Kali Kasus Kebakaran Terjadi di Rembang, Ini Penyebabnya
Disinggung sampai kapan semburan itu akan berakhir, pihaknya mengaku belum bisa memastikan.
Sebab hal ini tergantung seberapa besar jebakan gas yang ada di dalam.
"Biasanya sih hanya sepekan. Ada yang sampai tahunan," imbuhnya.
Baca Juga: Stadion Krida Rembang bakal Digunakan Konser Gilga Sahid, Nasib PSIR di Liga 3 Apa Kabar?
Terpisah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rembang juga sudah meninjau di lokasi pada Kamis (5/10).
Menurut Kepala DLH Ika Himawan Affandi, kondisi ini tidak berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
Baca Juga: SOSOK Nadira Vega Model Remaja Asal Rembang yang Angkat Batik Lasem di Ajang Miss Teen Beauty Indonesia
Sebab sumber gas dinilai kecil dan tak berbau menyengat.
"Jadi masih aman terkendali," katanya.
Meski demikian, pihaknya menghimbau agar air yang bersumber dari sumur tersebut tidak dimanfaatkan terlebih dahulu karena masih bercampur gas. (vah/khim)
Editor : Abdul Rokhim