REMBANG – Harga bawang petani di Kabupaten Rembang jeblok.
Agar tak banyak merugi, Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) ikut memfasilitasi pemasaran dengan harga standar di pasaran.
Karyawan dan karyawati Dintanpan Rembang juga ikut nglarisi. Total yang dibantu fasilitasi penjualan 234 kg.
Baca Juga: Miris!! Karyawan Pabrik di Rembang Diduga Dilecehkan Pekerja Asing : Raba Tangan hingga Bagian Dada
Baca Juga: Duh!! Karyawan Pabrik di Rembang Diduga Dilecehken Pekerja Asing asal China, Begini Modusnya
Abdul Jabar, petani bawang merah dari Ngulaan, Bulu mengaku harga bawang merah terlalu murah untuk petani.
Jika dipaksakan dijual harganya dari petani hanya Rp 12 ribu. Belum kepotong operasional panen, tinggal Rp 10.000.
”Sebelumnya Rp 18.000 sampai Rp 25.000. Panen terlalu banyak. Stok melimpah. Panen raya,” bebernya.
Abdul menyampaikan kondisi panen di lapangan. Saat ini panen raya di Brebes, Jawa Tengah, Nganjuk, Jatim dan Majalengka, Jawa Barat.
Baca Juga: Soal Kondisi Defisit APBD Rembang 2023, Butuh Dua Pekan Rampungkan APBD Perubahan
Baca Juga: Diwarnai Bazar UMKM hingga Fahion Show, Begini Keseruan Puncak HUT ke-3 Rumah BUMN Rembang
Ketiga daerah saat ini panen serempak, sehingga membuat harga bawang merah turun drastis.
”Petani merugi kalau di jual. Kerugian Rp 3.000/kg. Minimal harga petani untuk musim kemarau Rp 15.000,” terangnya.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Fajar Riza Dwi Sasongko menyebutkan saat ini bawang merah bagus produktivitasnya, panen melimpah.
Baca Juga: Duh! Dua Ratus Sumber Air di Rembang Mulai Surut, Ini Penyebabnya
Baca Juga: Baru! Museum Kartini Rembang Tambah Ruang untuk Peninggalan Putra RA Kartini, Begini Penampakannya
Namun hasil produksi yang tinggi, berimbas harga yang kurang bagus.
”Idealnya kalau disampaikan petani break even point atau titik impas usaha tani Rp 15 ribu. Tapi 2-3 minggu hanya Rp 10 ribu- Rp 12 ribu saja,” katanya.
Atas kondisi tersebut, Dintanpan pun terdorong membantu dalam penyerapan.
Setidaknya bisa mengurangi kerugian petani.
“Memang tidak bisa banyak. Karena dari petani sudah dijual keluar. Mereka nerimo kondisi yang ada,” ujarnya. (noe/ali)
Editor : Abdul Rokhim