REMBANG - Dampak kemarau sudah mulai merambah di sektor pertanian.
Sekitar 200 embung yang ada di Rembang mayoritas sudah surut bahkan ada yang tidak berair.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintanpan) Rembang Agus Iwan.
Ia mengatakan, beberapa waktu lalu pihaknya telah melaksanakan pemantauan kondisi embung pertanian.
Menurutnya sampai dengan kemarin sudah banyak yang mengering
Agus menyebut hanya ada beberapa yang kondisi airnya masih bertahan.
Itupun sudah tidak dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
Meski demikian, ia mengklaim bahwa kondisi produk pertanian masih tergolong aman.
Sebab, para petani sudah menyesuaikan komoditas sesuai iklim.
"Mungkin 25 persen (kondisi ketersediaan air di embung, Red),” jelasnya.
”Secara dari sisi pertanian, kami relatif aman. Karena komoditas disesuaikan dengan kondisi iklimnya," ujarnya.
Saat ini, kata Agus Iwan, para petani mayoritas sudah menanam tanaman yang tidak terlalu membutuhkan banyak air. Seperti tembakau dan kacang ijo.
"Yang padi hanya di area irigasi. Seperti Sale, Pamotan, sama Sluke yang ada sumber air, " ujarnya.
Di Rembang, kata Agus, total ada sekitar 200 embung.
Petugas Dintanpan telah melakukan pemantauan secara sampling.
"Beberapa titik sudah berkurang banyak airnya. Bahkan sudah ada yang kering, " ungkapnya.
Disinggung soal antisipasi pada puncak kekeringan, pihaknya mengklaim sudah memberikan peringatan kepada masyarakat sejak dini, bahwa tahun ini akan terjadi kemarau.
Sehingga para penyuluh telah memberi imbauan kepada warga.
Meski demikia, ia menyadari, dari segi produksi padi akan mengalami penurunan.
"Tahun 2022 luas panen padi 39.039 hektare, tahun ni diprediksi 37.286 hektare, ada penurunan sekitar 5 persen, " ujarnya. (vah)
Editor : Kholid Hazmi