REMBANG – Bupati Abdul Hafidz baru-baru ini menyentil budaya konsumtif pemuda di Kabupaten Rembang. Termasuk budaya senang merokok dan ngopi.
Sebab, menurutnya hal itu menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingginya angka kemiskinan.
Ia pun mengingatkan para pemuda untuk mengatur gaya hidup terutama bagi yang senang membelanjakan uang tanpa pertimbangannya dengan matang.
“Rokok dan ngopi itu ikut menyumbang trend-nya,” ungkap Hafidz disela menghadiri wisuda mahasiswa dan mahasiswi Universitas YPPI Rembang (UYR) di Balai Kartini pada Kamis (24/8).
Baca Juga: Lampu Lalu Lintas di Pertigaan Clangapan Rembang bakal Dipadamkan Dua Bulan, Ini Penyebabnya
Baca Juga: Duh! Diajak DPRD Rembang Bahas Serapan Anggaran, Pimpinan Tim Anggaran Pemerintah Daerah Justru Mangkir
Bupati menambahkan, angka kemiskinan di Kabupaten Rembang tahun ini mencapai angka 440. Sementara, di kabupaten tetangga, yakni Kabupaten Blora hanya menyentuh angka 390.
Menurutnya, hal yang mencolok pada masyarakat Kota Garam yakni senang merokok dan ngopi.
Oleh karenanya, dirinya mengingatkan untuk sebisa mungkin mengurangi dua hal tersebut.
Baca Juga: Membanggakan! Anak Nelayan asal Sluke Ini Jadi Wisudawati Terbaik Universitas YPPI Rembang, Ini Sosoknya
Baca Juga: Duh! Retribusi Pasar Kreatif Lasem 'Nol', Pemkab Rembang Tetap Gelontorkan Rp 60 Juta Perbulan, Kok Bisa?
”Jadi hasil dari Badan Pusat Stastistik (BPS) faktornya ada juga rokok dan ngopi. Saya bisa pahami. Rokok paling murah Rp 20 ribu, kalau punya Rp 60 ribu, masih Rp 40 ribu. Itu masalahnya. Makanya saya minta generasi muda jangan banyak merokok dan ngopi terus, agar kemiskinan bisa turun drastis,” ujarnya.
Ia mencontohkan saat pandemi nasional minus 5 koma sekian. Kabupaten Rembang hanya 1 koma sekian. Tahun 2022 pasca pandemi timbul cukup bagus. Kuartal pertama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 4-5 sekian persen diatas nasional.
“Artinya potensi di kabupaten Rembang perlu dikembangkan dan didukung semua pihak termasuk generasi muda yang punya potensi. Untuk bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan di Kabupaten Rembang,” ujarnya.
Baca Juga: Bikin Geger, Seorang Wanita Ditemukan Tewas Tergeletak di Lasem Rembang, Begini Kejadiannya
Baca Juga: Ratusan Jaring Cotok Milik Nelayan di Rembang Dibakar DKP Jateng, Ini Alasannya
Lebih lanjut, kata Abdul Hafidz, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi cukup tinggi. Dan angka pengangguran se-Jateng terendah. Hanya 1,7 persen.
“Jadi dibandingkan Kabupaten tetangga, Rembang terendah. Itu data dari BPS. Tetapi kalau melihat pertumbuhan ekonomi, pengangguran, tidak sejalan dengan garis lurusnya kemiskinan,” katanya.
Di hadapan mahasiswa, Hafidz menyebutkan, kemiskinan masih tergolong tinggi. Karena diangka 14,6 persen.
”Jadi kalau melihat dari breakdown kemiskinan mestinya tidak kalah daerah lain turunnya. Tapi faktanya dari BPS masih mencatat 2022 kemiskinan di Kabupaten Rembang masih 14,6 persen,” imbuhnya. (noe/ali)
Editor : Abdul Rokhim