Baca Juga : Kecelakaan Bus Indonesia VS Innova di Kragan Rembang, Begini Kronologinya
Harno mempercayakan posisinya digantikan Joko Supriyadi selain karena pertimbangan internal partai dan karena ada figur yang menginginkan. Juga karena catatan karier politik dan pengalaman Joko di Kota Santri sudah cukup komplet. Karena sudah empat kali nyalon dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
“Mas Joko sudah nyalon 4 kali. Nyalon kedua dan ketiga berhasil. Satu dan keempat gagal. Jadi skornya komplet. Sudah dua kali kalah dan dua kali menang, skor 2-2,” ujarnya.
Sementara soal syarat administrasi pergantian posisinya degan Joko menurutnya tinggal mengganti kelengkapan di KPU. “Tak kira tidak ada masalah soal itu (Administrasi, Red),” ujarnya.
Soal mau ke dapil mana selepas posisinya diganti. Harno mengaku akan melihat dapil-dapil yang membutuhkan dan yang memungkinkan ia bisa maksimal.
“Khususnya yang memungkinkan saya masuk. Ya akan masuk di dapil-dapil yang membutuhkan,” terangnya.
Saat disinggung apakah akan kembali ke dapil yang membesarkannya di Pamotan-Sale, Harno mengaku masih terus dimatangkan.
”Dari dapil 1 sampai 7 hingga saat ini masih kami mapping. Jadi situasinya bagaimana. Bisa jadi di Pamotan pulang kampung atau dapil lain yang sangat membutuhkan,” tandasnya.
Menurutnya pertimbangan dan evaluasi di masing-masing dapil sangat penting. Karena peta kompetisi pencalekan semua dapil ketat semuanya.
“Terutama daerah timur sangat ketat sekali. Maka harus benar-benar desain. Hitung. Bagaimana Demokrat bisa dapatkan kursi,” tandasnya.
Sebelumnya Harno memilih dapil I sebagai tempat pemilihannya. Dengan pertimbangan ingin mengembalikan kejayaan partainya yang dulu pernah meraih delapan kursi. Dalam pemilu 2024 mendatang, Harno mengaku akan berusaha semaksimal mungkin.
”Persaingan dapil semua ketat dan tidak gampang. Namun memang tidak ada kompetisi yang ringan. Tapi kalau tidak berat kompetisinya kurang marem,” imbuhnya. (noe) Editor : Abdul Rokhim