Baca Juga : Bus Rombongan SMPN 1 Sarang Rembang Alami Kecelakaan di Tol Cipularang, Begini Kata Dinas Pendidikan
Acara itu dilaksanakan di area pantai. Panitia sudah menyiapkan ring ukuran sekitar 5×5 meter. Pembatasnya dibuat dari bambu. Beralas pasir.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus warga sudah berkerumun menyaksikan tradisi itu. Kemeriahan diiringi suara gamelan dan teriakan hak e, hak e untuk meramaikan suasana.
Para penonton nampak antusias mengerubungi arena. Bahkan, ada yang sampai memanjat jok motor untuk bisa menyaksikan.
Pathol sendiri merupakan permainan seperti gulat. Peserta mengenalan celana hitam. Kemudian mengenakan kain putih yang diikat pada pinggang.
Aturan mainnya, ada dua peserta yang saling adu kekuatan. Masing-masing harus saling menjatuhkan. Yang berhasil, ia lah pemenangnya.
Peserta bebas jika hendak berpartisipasi. Penonton pun bisa masuk ring untuk bertanding.
Masing-masing peserta bersalaman sebelum bertanding. Kemudian saling memegang sabuk kain. Begitu dimulai, mereka pun saling mendorong, mengangkat, atau membanting. Jika selesai, peserta kembali bersalaman.
Kasrowi, salah satu panitia menjelaskan tradisi Pathol ini digelar setahun sekali oleh para nelayan Sarang. "Ini tradisinya orang Sarang. Khusus nelayan. Asli Sarang," katanya.
Aturan mainnya memang seperti bergulat. Tidak boleh menjegal, memukul, dan menyikut. Murni kekuatan fisik.
Acara gulat pathol terus berlanjut sampai menjelang sore. Setidaknya dalam acara tersebut ada sekitar 40 partai tanding. Menang maupun kalah tetap dapat hadiah. Pesertanya tidak hanya warga Sarang dan sekitarnya, namun juga hadir dari Tuban, Jawa Timur.
"Hadiahnya Rp 300 ribu untuk yang menang, Rp 200 ribu untuk yang kalah," jelasnya. (vah/khim) Editor : Abdul Rokhim