Baca Juga : Atasi Kejenuhan Kemacetan Pantura Rembang-Pati, Sejumlah Sopir Pilih Mancing, Ini Lokasinya
Panca, salah seorang sopir truk dari Pasuruan Jawa Timur yang hendak menuju ke Semarang menuturkan, dirinya mengaku semalaman terjebak macet. Namun, hingga pagi kemacetan tak kunjung juga terurai.
”Terpaksa tidur di mobil. Perbekalan seadanya, sempat puasa dan tidur di truk juga. Sebab, banyak pengeluaran untuk beli solar. Harapanya segera lancar lah,” keluhnya.
Lebih lanjut, kata Panca, dirinya mulai masuk ke Rembang pada Selasa (28/2) pukul 22.00 namun hingga Rabu (3/1) pukul 11.30 baru sampai di daerah Kelurahan Purworejo, Kaliori. Padahal, jika lancar kendaraan hanya memakan waktu tidak sampai 10 menit.
"Kalau macet kaya gini ya bisa tekor. Uang akomodasi Rp 1,6 juta. Untuk beli solar Rp 900 ribu. Kalau tidak macet lumayan bisa ditabung. Ketika macet harus nambah Rp 300 ribu beli bahan bakar," keluhnya.
Keluh kesah itu juga dikatakan salah seorang sopir, Wahyu, 56, asal Sampang, Madura. Dirinya mengaku, hingga Kamis (2/3) sekira pukul 10.30 hanya bisa mondar-mandir di sepanjang Jalan Gajahmada, Rembang.
Sebab, sudah berjam-jam dirinya terjebak kemacetan. Namun, tak kunjung juga ada tanda-tanda pergerakan kendaraan yang signifikan.
"Perjalanan dari Sampang, Madura pukul Rabu (1/3) pukul 17.00. Mulai masuk Rembang Kamis (2/3) sekira pukul 05.00. Setelah itu, hingga pukul 10.30 tak ada pergerakan," katanya.
Lebih lanjut, kata Wahyu, dirinya mengaku tengah mengangkut 7 ton ikan kembung. Rencananya, ikan tersebut akan dikirim menuju pabrik pengolahan ikan di Kecamatan Kaliori.
"Ikannya nyaris busuk mas, ya bagaimana pendinginnya kan mencair. Ya, mau apa dikata," keluhnya.
Bahkan, berulang kali juragannya juga telefon. Menanyakan posisi terakhir. Namun, tetap saja ia menjawab "tak ada pergerakan," katanya.
Kegelisahan yang ia rasakan itu bukan tanpa alasan. Sebab, sudah berjam-jam ia terjebak macet. Kalau terlalu lama di jalan risiko ikan yang dibawa busuk dan tidak diterima pabrik.
"Harganya pasti anjlok. Jika masih fresh 7 ton mungkin bisa tembus Rp 100 juta. Tapi kalau sudah rusak harus dibawa pulang. Dikirim ke ternak. Diproses dipakai tepung. Harganya murah. Perbandingan berlipat-lipat. Paling Rp 25 juta. Ya, semoga masih bisa diselamatkan," katanya.
Ia pun berharap, kondisi yang ada segera ditangani pihak terkait. Agar arus lalu lintas segera normal kembali.
”Semoga segera lancar lah. Kami ini sopir kan kasihan hidup di jalan. Kalau macet otomatis nambah bekal ditambah lagi memikirkan kondisi muatan,” ujarnya. (noe/khim) Editor : Abdul Rokhim