Baca Juga : Imbas Kemacetan Pantura: Kejaksaan, PMI hingga Sekolah di Rembang Ramai-Ramai Bagikan Air Minum dan Makanan
Karena lamanya kamacetan, beberapa sopir tidur di kendaraan. Selain itu, sopir rela merogoh uang tambahan untuk beli solar. Dari beberapa mereka di antaranya memilih puasa. Karena bekal yang tak mencukupi.
Pantauan Jawa Pos Radar Kudus di lapangan, kemacetan mengular dari Pabrik Tas (pabrik gudang rokok bentol) -Pasar Banggi atau depan gudang Alfamart- Tireman-Rembang-Kaliori-Batangan-Juwana.
Bahkan, hingga Rabu (1/3) kemacetan masih terjadi. Kendaraan jalan itu didominasi tronton atau kendaraan yang tidak bisa lewat jalur alternatif.
Kondisi berbeda di jalur sebaliknya atau Juwana-Rembang. Di jalur itu tak terjadi kemacetan.
Jawa Pos Radar Kudus kemudian mencoba lewat jalur alternatif mulai wilayah Kaliori yaitu Banyudono, Bogoharjo, Karangsekar, Dresi Wetan, Dresi Kulon, Mojowarno, dan Tambakagung. Beberapa titik jalur rusak misalnya di Tambakagung.
Jalur itu hanya bisa dilewati satu kendaraan roda empat. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan, ban mobil harus turun ke tanah. Demikian, jalur itu tetap lancer. Dari jalur dalam batas kota Rembang sampai pertigaan Kaliori wartawan ini butuh waktu 30 menit.
Setelah keluar dari jalur alternatif sampai di pertigaan Kaliori pantura, wartawan ini terjebak kemacetan. Dari jembatan kembar sampai Juwana, Pati.
Sejumlah truk hanya bisa pasrah dengan kondisi itu. Tidak ada pilihan lain kecuali harus antre. Beberapa sopir memilih kejenuhan dengan tidur di atas truk.
Basuki, sopir trailer mengaku terjebak macet masuk Jalan Gajahmada Rembang Rabu (1/3) pukul 01.00. Dia melakukan perjalanan dari Lamongan ke Banten. Sampai siang kemarin, dia baru sampai Kaliori pukul 11.00 kemarin.
”Bahan bakar boros. Waktu perjalanan lebih lama. Harapan saya lancar,” pengakuan Basuki.
Kondisi serupa dikeluhkan supir lainnya Panca. Dirinya melakukan perjalanan dari Pasuruan, Jatim. Bawa styrofoam ke Semarang. Namun masuk batas kota barat atau jalan Gajahmada Rembang Selasa (28/3) pukul 22.00 sudah terjebak macet. Sampai pukul 11.30 keesokan harinya atau Rabu (1/3) dirinya baru sampai Wates, Kaliori.
Jika lancar, kendaraan yang melintas dari Gajahmada ke Wates, Kaliori, hanya butuh waktu tidak sampai 10 menit.
”Saya terpaksa tidur di mobil. Perbekalan seadanya. Untuk menghemat uang ia puasa,” harapaPanca.
Panca hanya dapat uang akomodasi Rp 1,6 juta dari perusahaannya. Untuk beli solar Rp 900. Sisanya untuk makan. Kondisi macet seperti itu mengakibatkan uang akomodasi habis di perjalanan. ”Tidak bisa nabung,” terangnya.
Wajito, salah satu supir truk mengaku sudah terjebak macet sejak Rabu (28/2) sekitar pukul 19.00. Kendaraannya terhenti di sekitar gapura batas kota. ”Saya dari malam pukul 19.00, sampai sekarang (sekitar pukul 10.00) tidak ada pergerakan. Kami kalau makan beli di warung,” ungkapnya.
Ia berjalan dari Gresik ke Semarang. Seharusnya, hari ini sudah sampai tujuan. Karena macet perjalananpun terhambat. "Hari ini sudah bongkar harusnya. Biasanya sampai Semarang pukul 04.00. Dari gresik pukul 11.00 (kemarin 28/2)," ungkapnya.
Petugas Satlantas Polres Rembang berusaha mengurai kamacetan itu kemarin. Baik gunakan mobil patroli maupun roda dua. Kemarin koran ini bertemu di batas Kaliori, Rembang-Pati.
Kasatlantas Polres Rembang, AKP Dwi Panji Lestari melalui Kanit Turjawali, Satlantas Polres Rembang, Ipda Christiono melaporkan, pihaknya sudah menemukan kepadatan arus di wilayah pantura Rembang sampai Pati. Upaya menerjunkan tim urai roda dua dan empat. Juga koordinasi Satlantas Polres Pati.
Selain tim urai dikerahkan tim urai gunakan mobil patroli dan roda dua, petugas juga sempat sedikit bagikan sarapan. Dibagikan pengemudi yang sejak Selasa malam berhenti. Mengantri. Dari pom Gajahmada, Rembang sudah kehabisan stok.
”Sementara kondisi jalan basah. Informasi petugas yang terjun mengurai ada jalan amblas. Kami juga koordinasi penyelenggara proyek segera membetulkan biar bisa digunakan dua arah. Sementara bergantian. Tutup arus. Saat terjadi penumpukan dilakukan penarikan,” laporanya.
Supaya tidak menumpuk, alternatif kendaraan yang tonase lebih dari 5 ton diarahkan jalur Rembang-Blora-Semarang. Untuk mengurangi penumpukan arus kendaraan kecil, kendaraan pribadi. Dari pertigaan Soklin diarahkan lingkar kota untuk yang ingin ke Semarang.
Jalan yang diarahkan cukup mulus. Hanya di wilayah Kecamatan Bulu sedikit ada penyempitan dikarenakan tanah longsor. Sama juga proses perbaikan. Namun setidaknya bisa mengurangi penumpukan kendaraan di jalur pantura. (noe/vah/zen) Editor : Abdul Rokhim