Baca Juga : Disinggung Soal Kasus Oknum ASN Rembang yang Ngamar saat Jam Kerja, Ini Tanggapan Bupati
Potensi alam yang disuguhkan diantarnya pemandangan di lereng Gunung Argopuro yang masih hijau. Kontur tanah untuk pertanian juga dibuat terasering.
Saat ini, sudah ada rintisan desa wisata. Tanah berundak-undak itu sedang ditanami berbagai pohon. Total luasnya sekitar dua hektare Seperti durian dan alpukat. Ukurannya masih kecil. Tingginya baru sekitar 30 sentimeter. Namun, kondisi jalan masih belum diaspal. Lebar akses hanya cukup dilalui satu mobil. Lahan parkir juga masih minim.
Selain di area tersebut, juga ada spot lain. Yakni di area bukit Rengganis, sekitar pos pendakian Gunung Argopuro. Di situ sudah ada penataan berbagai fasilitas. Seperti warung kopi dengan view pegunungan hingga gardu pandang. Namun, kondisi saat ini nampak tak terawat. Selain itu juga sepi. Tak ada aktifitas.
Saat Jawa Pos Radar Kudus menginjak kayu yang ada di warung kopi, pondasinya sudah longgar. Sehingga seperti tidak kuat.
Kepala Desa Dadapan Zubair Utsman menyampaikan, untuk rintisan argowisata, pemerintah desa sudah bekerjasama dengan salah satu universitas untuk pengembangan. "Permintaannya lima hektare, baru kami penuhi tiga hektare," ujarnya.
Tahun depan akan dilakukan pengembangan lahan agar memenuhi lima hektare. Lahan tersebut akan diisi buah-buahan yang terus berkelanjutan. Rintisan agrowisata ini akan dijadikan program unggulan.
Sementara, di kawasan bukit Rengganis, ke depan juga akan dikerjasamakan. Namun saat ini terkendala pendanaan dan akses jalan.
"Dadapan punya banyak potensi. Ada tiga gua yang nanti juga kami kembangkan. Akses jalannya juga masih bernegosiasi. Banyak potensi tapi keterbatasan kemampuan," jelasnya.
Disinggung soal adanya beberapa spot seperti gardu pandang, Zubair menjelaskan, beberapa waktu lalu wisata ini sudah di-launching. Namun, karena masih pandemi, tidak diizinkan membuka. "Karena kendala pandemi. Perlahan kami tata kembali," ungkapnya. (vah/ali) Editor : Abdul Rokhim