Pengunjung juga bisa berin teraksi dengan satwa lain. Ngulahan Park bisa menjadi salah satu tempat rujukan liburan di Rembang. Di sana, pengunjung bisa healing sejenak sambil melihat pepohonan, pemandangan pegunungan, dan hewan-hewan.
Selain berjalan kaki, pengunjung juga bisa berkeliling di lahan 3,5 hektare dengan menggunakan kuda. Pengunjung bisa jalan-jalan santai sembari melihat burung yang berkeliaran. Sebagian besar satwa di sini dilepas. Ada beberapa hewan seperti merak hijau, jalak, dan berang-berang.
Wisata ini mulai dikenal tiga bulan lalu. Saat itu digelar paket buka bersama, sehingga Ngulahan Park pun dikenal khalayak.
Konsep awal pendirian Ngulahan Park, kata Ketua Pengelola Hasan Efendi, dimulai dari rasa keprihatinan atas kerusakan lingkungan yang berdampak pada habitat satwa, seperti kebakaran hutan. “Di hutan Rembang masih ada merak. Biasanya kemarau panjang hutan kebakaran, rata-rata penduduk sekitar hutan nemu telurnya,” jelasnya.
Karakteristik merak, lanjut Hasan, jika hendak bertelur, mereka tidak memilih di area dalam hutan, tetapi mencari tempat yang berdekatan dengan aktifitas manusia, sehingga ada telur-telur yang ditemukan warga. “Warga sekitar hutan menemukan telur, kamudian kami tetaskan sendiri. Terus kami rawat di sini,” jelasnya.
Sampai saat ini, di Ngulahan sudah menyelamatkan sekitar 17 ekor. Kini usianya sudah delapan bulan. Selain merak, juga ada sandang lawe yang ditemukan di tengah sawah. Saat ditemukan, sandang lawe mengalami luka tembak. Kemudian diselamatkan dan dirawat di Ngulahan Park. “Penembak sekarang untuk kesenangan belaka. Bukan dikonsumsi. Di tembak, habis itu dibiarkan saja,” ungkapnya.
Beberapa waktu lalu, di Ngulahan ada sekitar 27 jenis satwa. Paling banyak merak dan jalak uren. Ada juga beberapa satwa yang di kandang seperti ular, berang-berang, dan iguana. Jika malam, sudah ada petugas yang berjaga.
Sebelum berpenghasilan, Karangtaruna di Desa Ngulahan secara swadaya menjaga keamanan di lokasi ini. Sampai saat ini, melalui Ngulahan Park sudah bisa memberdayakan 16 pemuda karang taruna. Jika hari libur, ketika kunjungan wisata sedang ramai bisa menggandeng tenaga kerja dari desa sekitar. “Supaya tidak macet,” katanya.
Di Ngulahan Park juga ada lapak-lapak pedagang penjual jajanan di jalan sekitar wisata. Kata Hasan, total ada 27 UMKM. Jumlah itu belum termasuk ibu-ibu yang menyetorkan atau menitipkan makanan. Jika dihitung, lanjut Hasan, saat ini sudah ada 50 KK yang aktif.
Ada juga warga yang memilih membeli kuda untuk berkeliling pengunjung. ”Ada enam warga yang membeli kuda, 30 persennya masuk BUMDes,” katanya. Terkait dengan tarif, pengunjung dikenai parkir motor Rp 5 ribu. Untuk mobil Rp 10 ribu. Sementara bila ingin mencoba berkuda, bisa merogoh kocek Rp 15 ribu. (vah/mal) Editor : Ali Mustofa