Baca Juga : Mahfudz MD Sowan ke Ponpes Leteh Rembang, Gus Mus: Ngobrol Perang Rusia
Kepala Desa Tasikagung, M. Riyanto saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus membenarkan kabar tersebut. Dia menuturkan pagelaran di kampung nelayan terbesar di Rembang itu nantinya akan dikonsep berbeda. Mengingat, Kabupaten Rembang masih berada di level II.
”Masih sama seperti tahun lalu. Rembang masih level II. Kesenian masih dibatasi hingga pukul 21.00 saja. Bedanya, ada pentas ketoprak siang sampai sore serta atraksi barongan. Untuk dangdut tidak memungkinkan,” terangnya pada Rabu (4/5).
Dia menambahkan, seharusnya juga ada pentas wayang kulit. Namun, karena tidak memungkinkan hingga larut malam. Maka kegiatan tersebut dibatalkan. Sama halnya dengan wayang kulit, kegiatan pawai pun juga ditiadakan. Mengingat, dikhawatirkan menimbulkan kerumunan.
”Mendatangkan orang banyak tidak mungkin. Jadi, tidak ada pawai. Meski ruang lingkup dalam kampung. Diganti atraksi barongan keliling kampung dua RW. Yakni Dukuh Pabean dan Kramatan. Dengan total anggaran Rp 100 juta,” terangnya.
Sementara itu, selain kegiatan kesenian dan kebudayaan. Malam harinya akan digelar pengajian umum. Itupun mendatangkan pembicara lokal. Selain hanya diisi kegiatan internal kampung. Rencananya, ada juga malam tirakatan dan tahlil yang akan digelar Senin (9/5).
“Insya allah bisa berjalan aman dan lancar. Mudah-mudahan pandemi berakhir, sehingga tahun depan bisa lebih baik dan semarak seperti tahun-tahun sebelumnya,” harapnya. (noe/khim) Editor : Abdul Rokhim