Penyerahan Surat Keputusan (SK) perubahan bentuk Sekolah Tinggi (STIE) YPPI Rembang menjadi Universitas YPPI Rembang diberikan oleh LLDIKTI Wilayah VI, pada Kamis (21/4). SK diserahkan oleh Bhimo Widyo Andoko selaku Kepala LLDIKTI Wilayah VI dan diterima oleh H.M. Nawawi, selaku Ketua Yayasan STIE YPPI Rembang.
Pada acara yang digelar Ballroom Pollos Hotel itu. Dilaksanakan pula peresmian dan pelantikan rektor Universitas YPPI Rembang. Susunan Rektor dan Wakil Rektor Universitas YPPI Rembang masa bakti 2022-2026 adalah sebagai berikut.
Rektor Dr. Ir. H. Mudzakir MZ, MM. Wakil Rektor I M. Aviv Mahmudi S.Kom., M.Kom. Wakil Rektor II, Muhammad Tahwin, SE.,M.Si. Wakil Rektor III, Agustina Widodo, S.Pd., MM.
Terpisah, Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Mochamad Hanies Cholil Barro' menghadiri penyerahan SK tersebut. Atas nama Pemkab, Hafidz mengucapkan selamat. Mengingat, komitmen YPPI yang kuat untuk bertransformasi, sekaligus meningkatkan layanan serta mutu pendidikan.
”Tentu tidak bisa dianggap ringan. Karena butuh kerja sama pihak-pihak lain. Saya juga ingin ikut menyumbang pandangan. Sudah seharusnya kita bersaing daerah lain. Lahirnya UYR tentu semakin percaya diri kalau Rembang mampu bersaing daerah lain,” bebernya.
Menurut Bupati, Rektor Mudzakir sebagai perintis awal dirasa jadi sosok yang tepat. Bupati yakin dia siap untuk mengubah bentuk sekolah tinggi menjadi universitas. Maka apa yang sudah dilakukan tetap menjadi pegangan untuk ke depan ditingkatkan. Dievaluasi untuk meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik. “Tentunya harus ada kerja sama. Sinergi dengan pihak lain, termasuk pemerintah,” katanya.
Sementara itu, Rektor UYR DR Mudzakir menyebutkan jika perubahan bentuk, dari sekolah tinggi menjadi universitas. Tentu tantangannya lebih besar. Salah satunya dengan menambah prodi baru. “Alhamdulillah prodi sains aktuaria dibutuhkan oleh banyak pihak. Di Jateng satu-satunya di UYR. Kalau S-2 satu-satunya di Institut Teknologi Bandung (ITB),” terangnya.
Pihaknya pun mengaku telah menggandeng kerja sama dengan ITB. Untuk pengembangan program studi tersebut. Tentunya tantangan itu memahamkan masyarakat tentang kebutuhan keilmuan yang disebut aktuaria.
“Jadi aktuaris, bekerja di lembaga keuangan, di asuransi. Paling tidak setahun butuh 1.000. Jadi ketika ITB meluluskan magister Aktuaria, nanti ”dicaplok” kemana-mana. Habis. Sedangkan statistika ada beberapa di Jawa tengah. Tetapi, di daerah timur adanya di UYR. Dan statistika sekarang bukan seperti dulu. Keilmuannya berkembang. Sehingga itu pun memadai kebutuhan dari berbagai aspek,” imbuhnya.
Satunya lagi sistem informasi sudah dipahami banyak pihak. Memasuki revolusi industri 5.0, tentu namanya teknologi informasi sangat penting.
”Perubahan bentuk jadi universitas ada syaratnya semula sekolah tinggi ilmu ekonomi, prodi basikny ekonomi dan manajemen. Untuk menjadi universitas harus ada 60 persen eksakta dan 40 persen non eksakta,” imbuhnya.
Eksistensi STIE YPPI tetap on the track sesuai ketentuan dan perundangan – undangan yang ada, perjalanan STIE YPPI lancar dan mampu berkontribusi positif terhadap pembangunan daerah. Dan hal ini dibuktikan pula dengan telah disetujuinya perubahan bentuk dari Sekolah Tinggi menjadi Universitas. (noe/khim) Editor : Abdul Rokhim