Direktur BUMD PT Rembang Migas Energi (RME) Zaenul Arifin menyebutkan hingga kemarin proses masih mobilisasi peralatan. Nantinya begitu sudah masuk langsung diproses.” Waktunya cepat. Sampai penyelesaian. Kurang lebih maksimal seminggu,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus (30/01).
Menurutnya, seharusnya perbaikan tata waktu Pertamina minggu ketiga sudah selesai. Namun kemungkinan karena terhambat kendala non teknis. Sehingga peralatan baru bisa masuk ke lokasi. “ Maka mudah-mudahan pekan pertama di bulan Februari 2022 sudah produksi lagi,” harapnya.
Soal teknis kerusakan, Zaenul menyebutkan penyebabnya ada zat yang mengotori sumur gas. Hanya ia tidak menjelaskan secara teknis. “Gambaran globalnya ada gangguan di dalam bawah permukaan dalam sumur. Begitu sudah selesai pasti di tes dulu. Beberapa hari. Kalau sudah oke. Baru bisa kembali full kapasitas, kembali normal,” bebernya.
Kendala teknis seperti itu, menurutnya hal yang lumrah di dalam dunia perminyakan. Ketika ada hambatan dilakukan pembersihan. Ibaratnya dalam dunia kesehatan ada kolesterol. Perlu dibersihkan. Kalau memang hambatannya ringan cukup di kasih chemical atau kimia. Begitupun seterusnya.
Di luar kendala teknis diatas kabar positif datang. Rencana Pertamina juga melakukan pengeboran lagi. Saat ini baru satu titik. Kabupaten Rembang mendorong segera mungkin mengebor dua titik.
”Kami bisa mengawal yang sifatnya mulai perizinan. Sampai nanti supporting bisnisnya. Mereka mau ngebor dua titik di wilayah kabupaten. Kami sudah siapkan,” imbuhnya.
Jika itu berjalan otomatis dua terealisasi tambahan BUMD. Bisa dua tiga kali lipat sekarang. Efeknya lagi pendapatan asli daerah (PAD) meningkat tajam dari RME. Kemudian juga membuka lapangan pekerjaan.
Selain itu dampaknya menumbuhkan ekonomi setempat. Ini yang ditunggu-tunggu. Makanya dikawal. Baik Pertamina maupun SKK Migas. “Hanya karena kewenangan wilayah Pertamina hanya bisa mendorong dan mendorong. Agar segera mengebor,” pungkasnya. (noe/ali)
Editor : Abdul Rokhim