Penelitian itu dilakukan sekitar tiga pekan. Mulai September sampai dengan Oktober. Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinbudpar Rembang Purwono menyampaikan, ukuran kerangka kepala manusia yang ditemukan itu besarnya normal sebagaimana orang pada umumnya.
Namun, hingga kemarin (30/10) pihaknya belum bisa memastikan terkait temuan tersebut. Sebab, saat ini masih menunggu hasil penelitian lebih lanjut dari Balai Arkeologi. "Kami belum diperbolehkan publikasi, karena kami masih menunggu dari Balar," katanya.
Terkait dengan lokasi penelitian, ia berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk mengamankan lokasi tersebut.
"Sambil menunggu nanti kalau penelitian ilmiahnya sudah clear nanti baru bisa dipublikasikan," jelasnya. Lokasi pastinya, lanjut Purwono, berada di wilayah Desa Karangasem. Kemudian naik ke area perhutani. "Penelitian ke Rembang belan lalu. September sampai 2 Oktober. Tiga pekan. Ada kepala manusia, besarnya normal," imbuhnya.
Pihaknya meminta kepada pemerintah desa setempat agar mengamankan lokasi penelitian berukuran sekitar 10x5 meter itu. Agar untuk sementara ini tidak dikunjungi oleh warga. "(Model pengamanan) terserah dari pemerintah desa. Aman di sini artinya belum dikunjungi oleh pengunjung. Penelitiannya itu 10x5 meter," katanya.
Meski menemukan kerangka manusia, penelitian itu difokuskan pada penemuan besusul laut. Untuk mengetahui bagaimana kehidupan di sekitar tempo dulu. "Berarti untuk budaya tingkat kehidupannya gimana kok ada besusul. Hampir semua di situ banyak besusulnya," imbuhnya. (ali) Editor : Ali Mustofa