RADAR KUDUS - Rasa marah merupakan emosi yang wajar dialami setiap orang. Namun, ketika hati terasa mudah tersulut, hal kecil bisa memicu kemarahan yang sulit dikendalikan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi hubungan dengan keluarga, teman, maupun orang-orang di sekitar.
Dalam ajaran Islam, umat Muslim dianjurkan untuk mengendalikan amarah dan memohon pertolongan kepada Allah SWT agar hati menjadi lebih tenang. Salah satu ikhtiarnya adalah membaca doa ketika mulai merasa emosi, disertai usaha menahan diri agar tidak melampiaskan kemarahan kepada orang lain.
Ada beberapa doa yang dapat diamalkan ketika merasa ingin marah terus-menerus atau ketika emosi mulai meningkat.
Baca Juga: Doa dan Amalan agar Hati Tenang saat Hati Galau dan Gelisah, Lengkap Bacaan Arab, Latin, dan Artinya
1. Membaca taawuz untuk memohon perlindungan kepada Allah
Ketika amarah mulai muncul, umat Islam dianjurkan membaca taawuz. Bacaan ini merupakan permohonan perlindungan kepada Allah SWT dari godaan setan.
Arab:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Latin:
A'udzu billahi minasy-syaithanir-rajim.
Artinya:
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Bacaan ini didasarkan pada hadis tentang seseorang yang sedang marah. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika orang tersebut membaca kalimat taawuz, kemarahannya diharapkan mereda. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Baca Juga: Doa dan Amalan Minta Jodoh dalam Islam, Lengkap dengan Bacaan Arab, Latin, dan Artinya
2. Membaca doa agar hati tetap teguh dalam kebaikan
Ketika perasaan tidak menentu dan emosi mudah berubah, seorang Muslim juga dapat memohon agar hatinya senantiasa berada dalam kebaikan.
Arab:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Latin:
Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik.
Artinya:
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa ini diriwayatkan dalam hadis Tirmidzi. Meski bukan doa khusus untuk meredakan amarah, bacaan tersebut dapat diamalkan untuk memohon keteguhan hati agar tetap mampu bersikap baik ketika menghadapi situasi yang memancing emosi.
3. Membaca doa memohon kelapangan hati
Saat pikiran terasa penuh, mudah tersinggung, atau kesabaran menipis, umat Muslim dapat membaca doa yang terdapat dalam Al-Qur'an, yakni Surah Taha ayat 25–28.
Arab:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Latin:
Rabbi syrah li shadri, wa yassir li amri, wahlul 'uqdatan min lisani, yafqahu qauli.
Artinya:
“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku.”
Doa tersebut merupakan permohonan Nabi Musa AS kepada Allah SWT. Doa ini dapat menjadi pengingat untuk menenangkan diri, menjaga ucapan, dan berusaha menyampaikan sesuatu dengan lebih baik ketika sedang menghadapi persoalan.
4. Membaca istigfar dan berzikir
Selain membaca doa, memperbanyak istigfar dan zikir dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menenangkan hati dan mengingat Allah SWT.
Salah satu bacaan yang dapat diamalkan adalah:
Astaghfirullahal 'azhim.
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”
Istigfar bukan sekadar bacaan ketika melakukan kesalahan, tetapi juga menjadi sarana introspeksi diri. Ketika amarah muncul, seseorang dapat berhenti sejenak, beristigfar, dan memikirkan dampak perkataan maupun tindakannya sebelum bereaksi.
Baca Juga: Doa dan Amalan agar Terbebas dari Lilitan Utang, Lengkap dengan Bacaan Arab dan Artinya
Cara Mengendalikan Amarah Menurut Ajaran Islam
Membaca doa perlu disertai tindakan nyata untuk mengendalikan emosi. Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW memberikan petunjuk agar seseorang yang marah ketika berdiri segera duduk. Jika amarahnya belum reda, ia dianjurkan berbaring.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan ketika emosi mulai meningkat antara lain:
-
Diam sejenak. Hindari langsung membalas perkataan yang memancing emosi agar tidak mengucapkan sesuatu yang disesali.
-
Mengubah posisi tubuh. Jika sedang berdiri, cobalah duduk. Bila masih marah, berbaringlah sejenak.
-
Mengambil jarak dari pemicu emosi. Menjauh sementara dari situasi yang memancing kemarahan dapat membantu memberi waktu untuk berpikir lebih jernih.
-
Berwudu. Berwudu dapat dijadikan bagian dari upaya menenangkan diri sebelum kembali menghadapi persoalan.
-
Mengevaluasi penyebab kemarahan. Perhatikan apakah emosi dipicu oleh kelelahan, kurang tidur, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau persoalan lain yang belum terselesaikan.
Islam mengajarkan bahwa kekuatan seseorang tidak hanya diukur dari kemampuannya menghadapi orang lain, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan diri ketika marah. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya saat marah.
Bagaimana Jika Merasa Ingin Marah Terus-Menerus?
Keinginan untuk marah berulang kali tidak selalu berarti seseorang memiliki sifat pemarah. Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan tekanan hidup, kelelahan fisik, kurang tidur, atau masalah emosional yang belum terselesaikan.
Karena itu, selain berdoa dan berzikir, penting untuk mengenali penyebabnya serta memberi tubuh dan pikiran waktu beristirahat. Berbicara dengan orang tepercaya juga dapat membantu melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.
Jika rasa marah berlangsung terus-menerus, sulit dikendalikan, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membuat seseorang khawatir akan menyakiti diri sendiri maupun orang lain, mencari bantuan tenaga kesehatan profesional merupakan langkah yang patut dipertimbangkan.
Pada akhirnya, doa saat hati mudah marah dapat menjadi pengingat untuk kembali menenangkan diri dan memohon pertolongan Allah SWT. Amalkan dengan penuh kesadaran, sembari berusaha memperbaiki cara merespons masalah. Dengan begitu, kemarahan tidak harus berujung pada ucapan atau tindakan yang menyakiti orang lain.
Editor : Mahendra Aditya