Doa Rebo Wekasan 2026 Lengkap Arab, Latin dan Artinya untuk Memohon Perlindungan

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:42 WIB
Ilustrasi berdoa  (Shutterstock)
Ilustrasi berdoa  (Shutterstock)

RADAR KUDUS - Rebo Wekasan 2026 jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026, bertepatan dengan 28 Safar 1448 Hijriah. Momen yang dikenal sebagai Rabu terakhir bulan Safar ini kerap diisi sebagian masyarakat dengan doa, zikir, sedekah, dan berbagai amal kebaikan sebagai bentuk ikhtiar memohon keselamatan kepada Allah SWT.

Penetapan tanggal tersebut mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama. Dalam kalender tersebut, bulan Safar 1448 H berakhir pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Namun, ada hal penting yang perlu dipahami sebelum mengamalkan doa-doa Rebo Wekasan. Tradisi ini tidak boleh dimaknai sebagai keyakinan bahwa Rabu terakhir Safar merupakan hari yang pasti membawa kesialan atau musibah. Sejumlah ulama justru menegaskan bahwa tidak terdapat dalil yang kuat yang menetapkan Rebo Wekasan sebagai hari turunnya bala atau kesialan.

Baca Juga: Rebo Wekasan 2026: Mulai Setelah Magrib, Ini Penjelasan soal Shalat Khusus

NU Online, misalnya, mencatat adanya perbedaan pandangan ulama mengenai amalan Rebo Wekasan. Ada ulama yang tidak membenarkan pengkhususan ibadah pada hari tersebut, sementara sebagian ulama lain membolehkan shalat sunnah mutlak atau shalat hajat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Karena itu, doa-doa yang berkembang dalam tradisi Rebo Wekasan lebih tepat ditempatkan sebagai munajat dan ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah, bukan sebagai keyakinan bahwa tanggal tertentu memiliki kekuatan mendatangkan bencana.

Salah satu rujukan yang sering digunakan dalam pembahasan doa Rebo Wekasan adalah karya Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki, Kanzun Najah wa as-Surur. Selain itu, terdapat pula doa yang dinukil dari Syekh Ahmad bin Umar ad-Dairabi dan Syekh Ahmad bin Ali al-Buni.

Berikut empat doa yang dapat ditemukan dalam khazanah tersebut.

1. Doa Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki

Doa pertama berisi permohonan perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan, sekaligus doa keselamatan bagi diri sendiri, orang tua, anak, keluarga, orang-orang yang dicintai, dan kaum Muslimin.

Arab:

وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَأَعُوذُ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ، وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْرَتِكَ أَنْ تُجِيرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَأَهْلِي وَأَحِبَّائِي، وَمَا تُحِيطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هَذِهِ السَّنَةِ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيهَا، وَاصْرِفْ عَنِّي شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ، يَا كَرِيمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لِي فِي هَذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَالأَهْلِ وَمَا تَحُوطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Latin:

Wa shallallāhu Ta‘ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn. A‘ūdzu billāhi min syarri hādzaz-zamāni wa ahlihi, wa a‘ūdzu bijalālika wa jalāli wajhika, wa kamāli jalāli qudratika an tujīranī wa wālidayya wa aulādī wa ahlī wa aḥibbā’ī, wa mā tuḥīṭuhu syafaqatu qalbī min syarri hādzihis-sanati, wa qinī syarra mā qadhaita fīhā, washrif ‘annī syarra syahri Shafar, yā Karīman-nadhari, wakhtim lī fī hādzasy-syahri wad-dahri bis-salāmati wal-‘āfiyati was-sa‘ādati lī wa liwālidayya wa aulādī wal-ahli wa mā taḥūṭuhu syafaqatu qalbī wa jamī‘il-muslimīn. Wa shallallāhu Ta‘ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallam.

Artinya:

“Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau. Aku berlindung kepada Allah dari keburukan zaman ini dan orang-orang yang hidup di dalamnya. Aku juga berlindung dengan keagungan-Mu, keagungan wajah-Mu, dan kesempurnaan kekuasaan-Mu. Lindungilah aku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang kucintai, serta mereka yang berada dalam kasih sayang hatiku dari berbagai keburukan tahun ini.

Lindungilah aku dari keburukan segala sesuatu yang Engkau tetapkan di dalamnya. Jauhkanlah dariku keburukan bulan Safar. Akhirilah bulan ini dan perjalanan hidupku dengan keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan bagi diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang kucintai, serta seluruh kaum Muslimin.”

Doa tersebut bersumber dari Kanzun Najah wa as-Surur, karya Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki. Kandungannya berfokus pada permohonan keselamatan dan perlindungan, bukan pada anggapan bahwa suatu hari secara otomatis mendatangkan malapetaka.

2. Doa Syekh Ahmad bin Umar ad-Dairabi

Doa kedua berisi permohonan agar Allah mencukupi berbagai kebutuhan, memberikan rahmat, serta melindungi dari keburukan dan bencana.

Arab:

اَللّٰهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوَى، وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالِ، يَا عَزِيزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ. اكْفِنِي مِنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ، يَا مُتَفَضِّلُ، يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ، يَا مَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، ارْحَمْنِي بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اَللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيهِ، وَجَدِّهِ وَأَبِيهِ، وَأُمِّهِ وَبَنِيهِ؛ اكْفِنِي شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيهِ، يَا كَافِي الْمُهِمَّاتِ، يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ. فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Latin:

Allāhumma yā Syadīdal-quwā, wa yā Syadīdal-miḥāl, yā ‘Azīzu dzallat li‘izzatika jamī‘u khalqika, ikfinī min jamī‘i khalqika, yā Muḥsinu yā Mujammilu, yā Mutafadhdhilu, yā Mun‘imu yā Mukrimu, yā man lā ilāha illā Anta, irḥamnī biraḥmatika yā Arḥamar-rāḥimīn. Allāhumma bisirril-Ḥasani wa akhīhi, wa jaddihi wa abīhi, wa ummihi wa banīhi, ikfinī syarra hādzal-yaumi wa mā yanzilu fīhi, yā Kāfiyal-muhimmāt, yā Dāfi‘al-baliyyāt. Fasayakfīkahumullāhu wa Huwas-Samī‘ul-‘Alīm, wa ḥasbunallāhu wa ni‘mal-wakīl, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-‘Aliyyil-‘Aẓīm. Wa shallallāhu Ta‘ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallam.

Artinya:

“Ya Allah, wahai Dzat Yang Mahakuat dan Mahadahsyat kekuasaan-Nya. Wahai Dzat Yang Mahaperkasa, seluruh makhluk tunduk di hadapan keperkasaan-Mu. Cukupkanlah aku dari seluruh makhluk-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Berbuat Baik, Mahaindah, Maha Memberi Karunia, Maha Memberi Nikmat dan Maha Memuliakan.

Wahai Dzat yang tiada Tuhan selain Engkau, rahmatilah aku dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Ya Allah, lindungilah aku dari keburukan hari ini dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Wahai Dzat Yang Mencukupi berbagai kebutuhan dan menolak bencana.

Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Doa ini menekankan sikap tawakal. Kalimat hasbunallahu wa ni‘mal wakil menjadi penegasan bahwa seorang Muslim menyerahkan perlindungan dan urusannya kepada Allah SWT.

3. Doa Syekh Ahmad bin Ali al-Buni

Doa ketiga berisi permohonan agar Allah memberikan penjagaan, kesehatan, serta keselamatan dari berbagai cobaan dan kesusahan.

Arab:

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ، وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنِي وَأَنْ تُعَافِيَنِي مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ الْبَلَايَا، يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ، وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ. اكْشِفْ عَنِّي مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا

Latin:

Allāhumma innī as’aluka bi-asmā’ikal-ḥusnā, wa bi-kalimātikat-tāmmāti, wa biḥurmati Nabiyyika Sayyidinā Muḥammadin shallallāhu ‘alaihi wa sallam an taḥfaẓanī wa an tu‘āfiyanī min balā’ika, yā Dāfi‘al-balāyā, yā Mufarrijal-hammi, wa yā Kāsyifal-ghammi, iksyif ‘annī mā kutiba ‘alayya fī hādzihis-sanati min hammin au ghammin. Innaka ‘alā kulli syai’in qadīr. Wa shallallāhu ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallama taslīman.

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah dan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna. Demi kemuliaan Nabi-Mu, junjungan kami Nabi Muhammad SAW, jagalah aku dan berikanlah keselamatan kepadaku dari berbagai cobaan-Mu.

Wahai Dzat Yang Menolak bencana, Yang Menghilangkan kesusahan dan Yang Menyingkap kesedihan, singkirkanlah dariku segala kesusahan dan kesedihan yang mungkin menimpaku pada tahun ini. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Inti doa ini adalah permohonan perlindungan dan penghilangan kesusahan. Karena itu, kandungannya dapat dipahami sebagai munajat kepada Allah untuk mendapatkan ketenangan dan keselamatan.

4. Doa Keselamatan yang Diamalkan Sebagian Kalangan Saleh

Doa keempat dinukil Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki sebagai salah satu doa yang diamalkan sebagian orang saleh. Isinya mencakup permohonan keselamatan dari berbagai ketakutan dan bencana, terpenuhinya kebutuhan, pengampunan, serta kebaikan di dunia dan akhirat.

Arab:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةٌ تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الأَهْوَالِ وَالآفَاتِ، وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ، مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ. اَللّٰهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Latin:

Allāhumma shalli ‘alā Sayyidinā Muḥammadin ṣalātan tunjīnā bihā min jamī‘il-ahwāli wal-āfāti, wa taqḍī lanā bihā jamī‘al-ḥājāti, wa tuṭahhirunā bihā min jamī‘is-sayyi’āti, wa tarfa‘unā bihā a‘lad-darajāti, wa tuballighunā bihā aqshal-ghāyāti min jamī‘il-khairāti fil-ḥayāti wa ba‘dal-mamāti. Allāhummashrif ‘annā syarra mā yanzilu minas-samā’i wa mā yakhruju minal-arḍi. Innaka ‘alā kulli syai’in qadīr. Wa shallallāhu Ta‘ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallam.

Artinya:

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, dengan rahmat yang menyelamatkan kami dari berbagai ketakutan dan bencana, memenuhi kebutuhan kami, menyucikan kami dari keburukan, mengangkat derajat kami, serta menyampaikan kami kepada berbagai kebaikan dalam kehidupan dan setelah kematian.

Ya Allah, jauhkanlah dari kami keburukan segala sesuatu yang turun dari langit dan yang keluar dari bumi. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Empat doa tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni memohon keselamatan, perlindungan, kesehatan, ketenangan, dan kebaikan kepada Allah SWT.

Yang perlu digarisbawahi, doa-doa tersebut tidak boleh dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa bulan Safar atau Rabu terakhirnya pasti membawa kesialan. Dalam kajian NU Online, terdapat penjelasan bahwa tidak ada nash yang tegas mengenai keistimewaan khusus Rebo Wekasan sebagai hari turunnya musibah.

Perbedaan pandangan juga muncul mengenai shalat yang dilakukan pada momen tersebut. Sebagian ulama tidak membenarkan shalat yang secara khusus diniatkan sebagai “shalat Rebo Wekasan”, sedangkan sebagian ulama membolehkan pelaksanaan shalat sunnah mutlak atau shalat hajat dengan niat yang sesuai. Karena itu, penting membedakan antara tradisi masyarakat dan ibadah yang memiliki dasar syariat.

Dengan demikian, Rebo Wekasan 2026 dapat dijadikan momentum untuk memperbanyak doa, sedekah, membaca Al-Qur'an, berzikir, bersilaturahmi, dan melakukan amal kebajikan. Semua itu dilakukan sebagai bentuk ikhtiar dan tawakal kepada Allah, bukan karena menganggap tanggal tertentu mempunyai kekuatan untuk mendatangkan kesialan.

Pada akhirnya, keselamatan dan perlindungan tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Rebo Wekasan dapat dimaknai sebagai momentum budaya-keagamaan bagi sebagian masyarakat untuk memperbanyak kebaikan, selama keyakinan dan praktiknya tidak ditempatkan sebagai kewajiban atau ibadah khusus yang secara pasti ditetapkan syariat.

Editor : Mahendra Aditya
Rebo Wekasan 2026 4 doa Rebo Wekasan doa rebo wekasan Amalan rebo wekasan Doa Rabu Wekasan