JAKARTA – Banyak umat Islam menganggap Muharram identik dengan momentum hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Namun, tahukah Anda bahwa penetapan Muharram sebagai awal Tahun Baru Hijriyah tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW?
Kalender Hijriyah yang kini digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia ternyata lahir melalui proses musyawarah panjang para sahabat Nabi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA. Penetapan tersebut bahkan sempat memunculkan perdebatan mengenai peristiwa apa yang layak dijadikan titik awal sejarah umat Islam.
Keputusan itu menjadi salah satu ijtihad politik dan administratif terpenting dalam peradaban Islam, yang hingga kini tetap digunakan sebagai sistem penanggalan resmi di berbagai negara Muslim.
Berawal dari Surat Tanpa Tanggal
Menurut penjelasan KH Ahmad Zarkasih Lc dalam buku Muharram Bukan Bulan Hijrahnya Nabi terbitan Rumah Fiqih Publishing, kebutuhan akan kalender resmi muncul sekitar tahun ke-17 Hijriyah atau sekitar dua setengah tahun setelah Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah.
Saat itu, Abu Musa Al-Asy'ari yang menjabat gubernur di Bashrah mengirim surat kepada Khalifah Umar. Ia mengeluhkan banyaknya surat perintah dari pusat pemerintahan yang tidak dilengkapi keterangan waktu.
Akibatnya, para pejabat daerah kesulitan membedakan mana instruksi terbaru dan mana yang sudah tidak berlaku.
"Surat-surat itu datang tanpa tanggal sehingga kami tidak mengetahui mana yang harus didahulukan," demikian inti keluhan Abu Musa sebagaimana dikisahkan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari.
Menyadari pentingnya administrasi negara yang tertib, Umar kemudian mengumpulkan para sahabat senior untuk merumuskan sistem penanggalan yang baku.
Empat Usulan Awal Tahun Islam
Setelah sepakat bahwa umat Islam membutuhkan kalender resmi, muncul perdebatan mengenai peristiwa apa yang layak dijadikan patokan awal sejarah Islam.
Terdapat empat usulan utama yang berkembang dalam musyawarah tersebut.
Pertama, menjadikan Tahun Gajah atau tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai awal kalender.
Kedua, menjadikan tahun turunnya wahyu pertama ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi.
Ketiga, menjadikan tahun wafatnya Rasulullah SAW sebagai titik awal.
Keempat, menjadikan peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah sebagai permulaan kalender Islam.
Masing-masing usulan memiliki dasar yang kuat.
Namun, Umar bin Khattab akhirnya menerima pendapat yang disampaikan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai tonggak awal penanggalan Islam.
Mengapa Hijrah Dipilih?
Ada beberapa alasan mengapa Umar memilih peristiwa hijrah.
Pertama, waktu hijrah dinilai paling jelas dan mudah ditelusuri dibandingkan tanggal kelahiran Nabi maupun turunnya wahyu pertama yang masih diperselisihkan.
Kedua, Umar menolak menjadikan tahun wafat Nabi sebagai awal kalender karena dianggap sebagai masa penuh kesedihan bagi umat Islam.
Ketiga, hijrah merupakan titik balik perjuangan Islam.
Sebelum hijrah, dakwah dilakukan dalam berbagai keterbatasan di Makkah. Setelah hijrah ke Madinah, umat Islam mulai membangun masyarakat, pemerintahan, serta peradaban yang mandiri.
Hijrah menjadi pemisah yang tegas antara fase penindasan dan fase kejayaan Islam.
Karena itulah kalender tersebut kemudian dikenal sebagai Kalender Hijriyah.
Mengapa Muharram, Bukan Rabiul Awal?
Menariknya, setelah sepakat menggunakan peristiwa hijrah sebagai patokan tahun pertama, para sahabat kembali berbeda pendapat mengenai bulan yang harus ditempatkan sebagai awal tahun.
Sebagian sahabat mengusulkan Rabiul Awal karena Nabi Muhammad SAW benar-benar melakukan hijrah pada bulan tersebut.
Namun Umar bin Khattab justru memilih Muharram.
Keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan bahwa persiapan hijrah sesungguhnya dimulai setelah Baiat Aqabah yang terjadi pada penghujung bulan Dzulhijjah.
Semangat baiat itulah yang membuka jalan bagi perpindahan kaum Muslimin ke Madinah.
Bulan setelah Dzulhijjah adalah Muharram. Karena itu, Muharram dipandang sebagai awal dari proses hijrah yang sesungguhnya.
Selain itu, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam, bersama Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab.
Muharram dan Spirit Pembaruan
Sejarah penetapan kalender Hijriyah menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga tata kelola kehidupan yang tertib dan berpandangan jauh ke depan.
Muharram bukan sekadar penanda pergantian angka tahun. Di baliknya tersimpan nilai musyawarah, ijtihad, dan keberanian para sahabat dalam mengambil keputusan demi kemaslahatan umat.
Momentum Tahun Baru Hijriyah sejatinya dapat dimaknai sebagai ajakan untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik; memperbaiki diri, memperkuat integritas, serta membangun peradaban yang lebih beradab.
Sebagaimana hijrah Nabi menjadi awal kebangkitan Islam, setiap pergantian tahun Hijriyah juga dapat menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian mengambil langkah pertama.
Editor : Mahendra Aditya