RADAR KUDUS – Banyak kegelisahan muncul karena manusia ingin mengendalikan semua hal dalam hidupnya.
Kita ingin masa depan berjalan sesuai rencana, ingin setiap harapan terwujud, dan ingin semua usaha berakhir sesuai keinginan.
Padahal, ketenangan justru hadir ketika manusia berhenti memaksakan kehendaknya dan belajar menyerahkan hasil kepada Allah.
Dalam gambaran hidup yang ideal, manusia tidak terlalu sibuk memikirkan “ingin menjadi apa” atau “ingin memiliki apa”.
Ia hanya berusaha taat, menjalani peran yang diberikan Allah, dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.
Prinsip inilah yang membuat hati terasa ringan dan perjalanan hidup terasa lebih damai.
Kelak di akhirat, setiap tindakan akan dimintai pertanggungjawaban.
Mengapa kita memilih jalan tertentu? Mengapa kita melakukan suatu keputusan? Semua pilihan akan dipertanyakan.
Karena itu, hidup yang dijalani dalam kerangka ketaatan akan terasa lebih aman dan menenangkan.
Allah berfirman: “Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah menghendakinya.” (QS. At-Takwir: 29)
Ayat ini menegaskan bahwa kehendak manusia berada di bawah kehendak Allah.
Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta tidak pernah keluar dari ketetapan-Nya.
Keinginan Manusia vs Kehendak Allah
Orang bijak pernah berkata: “Aku berkehendak, engkau berkehendak, tetapi Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.”
Ungkapan ini mengajarkan kerendahan hati dalam menjalani hidup.
Manusia boleh merencanakan, tetapi keputusan akhir tetap milik Allah.
Bahkan sejak awal kehidupan, manusia tidak pernah benar-benar memilih.
Kita tidak memilih lahir di mana, dari keluarga siapa, dalam kondisi apa, atau menjadi laki-laki maupun perempuan.
Demikian pula kematian, tidak seorang pun tahu kapan dan bagaimana ia akan terjadi.
Semua itu berada dalam genggaman kehendak Allah.
Menyerahkan kehendak bukan berarti berhenti berusaha. Manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar, bekerja, dan berbuat baik.
Namun hasil akhirnya tidak dipaksakan sesuai keinginan pribadi.
Ketika usaha berhasil, manusia bersyukur. Ketika usaha tidak berhasil, manusia tetap tenang.
Di sinilah letak ketenangan sejati: hati tidak terguncang oleh hasil.
Jalan Menuju Ketenteraman Hati
Hidup menjadi berat ketika manusia merasa harus mengendalikan segalanya.
Namun ketika ia menyadari bahwa semua telah diatur oleh Allah, beban itu perlahan berkurang.
Ia tidak lagi tertekan oleh masa depan. Ia tidak lagi terlalu cemas terhadap kegagalan. Ia tidak lagi terlalu larut dalam keberhasilan.
Semuanya dipandang sebagai bagian dari skenario Allah yang terbaik.
Ketika manusia berhenti memaksakan kehendak, ia menemukan ketenangan yang selama ini dicari.
Ia menjalani hidup dengan ikhtiar, tetapi tidak terikat pada hasil. Ia berusaha, tetapi tidak gelisah.
Karena pada akhirnya, yang terjadi dalam hidup ini bukanlah apa yang paling kita inginkan, melainkan apa yang paling Allah kehendaki.
Dan di situlah letak kedamaian yang sesungguhnya. (top)
Editor : Ali Mustofa