Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Makan Apel Saja Bisa Jadi Jalan Mengenal Tuhan, Kok Bisa?

Ali Mustofa • Selasa, 5 Mei 2026 | 12:09 WIB
Ilustrasi mengenal Tuhan lewat makan buah apel (gemini ai)
Ilustrasi mengenal Tuhan lewat makan buah apel (gemini ai)

RADAR KUDUS – Banyak orang mengejar kebahagiaan melalui harta, jabatan, dan pengakuan.

Namun kebahagiaan tertinggi sesungguhnya hadir ketika manusia mulai mengenal Tuhannya.

Saat hati mengenal Sang Pencipta, hidup tidak lagi sekadar tentang menikmati dunia, tetapi merasakan makna di balik setiap nikmat yang diberikan.

Cara mengenal Allah tidak selalu melalui ibadah ritual semata.

Salah satu jalannya adalah membaca tanda-tanda kebesaran-Nya yang tersebar di alam semesta dan dalam diri manusia. 

Setiap detik kehidupan menyimpan pesan Ilahi bagi siapa saja yang mau berpikir.

Orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas akan lebih mudah menangkap pesan-pesan tersebut.

Pengetahuan membuat mata hati lebih tajam dalam melihat makna, sehingga rasa syukur menjadi lebih dalam dan kebahagiaan terasa lebih berkualitas.

Bayangkan dua orang yang sama-sama memakan buah apel.

Orang pertama hanya merasakan manisnya. Ia menikmati apel sekadar sebagai buah yang menyegarkan. 

Namun seorang ahli gizi merasakan sesuatu yang lebih.

Ia memahami kandungan vitamin, serat, dan manfaat kesehatan di dalamnya.

Ia tidak hanya menikmati rasa, tetapi juga menyadari betapa luar biasanya nikmat yang Allah ciptakan. Syukurnya pun menjadi berlipat ganda.

Dari contoh sederhana itu, terlihat jelas bahwa ilmu membuat seseorang mampu membaca “ayat-ayat” Allah dalam hal-hal kecil yang sering diabaikan.

Ilmu Mengangkat Derajat Manusia

Allah menegaskan kemuliaan ilmu dalam firman-Nya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujâdalah: 11)

Ayat ini menjadi penegasan bahwa iman dan ilmu adalah pasangan yang tidak terpisahkan.

Ilmu membantu manusia memahami keajaiban ciptaan-Nya, sedangkan iman menuntun hati untuk bersyukur dan tunduk kepada-Nya.

Karena itu, mendidik anak cucu agar menjadi pribadi yang cerdas dan berpengetahuan luas adalah investasi besar bagi kebahagiaan mereka.

Orang yang berilmu lebih mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah, baik dalam dirinya maupun di alam semesta.

Tubuh Manusia, Ayat yang Hidup

Salah satu tanda kebesaran Allah yang paling dekat adalah tubuh manusia sendiri.

Setiap saat, sel-sel tubuh yang mati digantikan oleh sel baru. Proses ini berlangsung terus-menerus sepanjang hidup.

Ketika pergantian sel berjalan seimbang, tubuh tetap sehat dan mampu berfungsi dengan baik hingga usia lanjut.

Kesadaran akan proses luar biasa ini seharusnya menumbuhkan rasa kagum dan syukur.

Betapa tubuh yang kita miliki bukan sekadar mesin biologis, tetapi bukti nyata kekuasaan Sang Pencipta.

Lalu, di manakah letak kekuatan tubuh kita?

Jawabannya bukan hanya pada fisik, tetapi pada kesadaran untuk menjaga, mensyukuri, dan memahami keajaiban yang ada di dalamnya.

Semakin banyak seseorang memahami tanda-tanda kebesaran Allah, semakin tinggi pula kualitas kebahagiaan yang ia rasakan.

Hidup tidak lagi dipandang sebagai rutinitas biasa, melainkan sebagai perjalanan penuh makna.

Ketika tubuh sehat, hati dipenuhi syukur, dan ilmu menuntun untuk mengenal Allah, di situlah kebahagiaan mencapai puncaknya.

Kebahagiaan sejati bukan sekadar rasa senang, melainkan ketenangan yang lahir dari kesadaran bahwa setiap nikmat berasal dari-Nya. (top)

Editor : Ali Mustofa
#alam semesta #tubuh manusia #Allah SWT #apel #Sang Pencipta