Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jangan Salah Paham Lagi! Zuhud dan Tawakal Ternyata Begini Maknanya

Ali Mustofa • Senin, 4 Mei 2026 | 16:05 WIB
Ilustrasi seseorang khusyuk berdoa (gemini ai)
Ilustrasi seseorang khusyuk berdoa (gemini ai)

RADAR KUDUS – Di tengah kehidupan modern yang identik dengan pencapaian materi, masih banyak orang menyangka bahwa zuhud identik dengan kemiskinan.

Seolah-olah orang yang ingin dekat dengan Tuhan harus menjauh dari harta, hidup serba kekurangan, dan menolak kenikmatan dunia.

Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Zuhud bukanlah soal tidak memiliki, melainkan soal bagaimana hati memandang kepemilikan.

Zuhud sering dipersepsikan sebagai sikap menjauh dari dunia.

Gambaran yang muncul adalah sosok sederhana yang hidup dalam kekurangan. Padahal hakikatnya tidak demikian.

Seseorang yang zuhud bisa saja memiliki kekayaan berlimpah, mampu membeli apa saja yang diinginkan, dan bebas menikmati fasilitas hidup. Namun, ia memilih untuk menahan diri.

Ia sadar bahwa harta hanyalah titipan. Karena kesadaran itu, kekayaan yang dimiliki tidak dijadikan alat memuaskan hawa nafsu, tetapi sarana memberi manfaat.

Ia tetap bekerja, tetap berusaha, tetap memiliki, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh kepemilikan.

Zuhud bukan tidak mampu menikmati dunia, melainkan mampu mengendalikan diri ketika dunia berada di genggaman.

Rasulullah bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Harta Sebagai Amanah, Bukan Tujuan

Orang yang zuhud memahami bahwa setiap rezeki mengandung hak orang lain.

Ia membelanjakan hartanya dengan penuh pertimbangan: tepat sasaran, tepat guna, dan membawa manfaat. 

Ia sadar bahwa harta yang tidak memberi manfaat akan berubah menjadi beban di akhirat.

Kesadaran inilah yang membuatnya tetap bekerja keras, tetapi tidak tenggelam dalam keserakahan. Ia mampu menikmati dunia tanpa diperbudak dunia.

Allah berfirman: “Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)

Banyak persoalan muncul karena kesalahpahaman dalam memahami istilah keagamaan.

Ketika makna awal sudah keliru, maka praktik yang lahir pun ikut menyimpang.

Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya benar bisa dianggap salah, dan sebaliknya.

Karena itu, menyamakan persepsi menjadi langkah penting sebelum menilai sebuah ajaran.

Tawakal Bukan Pasrah Tanpa Usaha

Salah satu istilah yang sering disalahpahami adalah tawakal. Ada yang mengira tawakal berarti pasrah total tanpa usaha.

Pemahaman ini kemudian melahirkan tuduhan bahwa orang yang berbicara tentang tawakal mengajak pada kemalasan.

Padahal tawakal justru menuntut usaha maksimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Usaha dan tawakal adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Rasulullah bersabda: “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa tawakal tidak pernah meniadakan ikhtiar.

Perbedaan pemahaman sering lahir dari perbedaan cara menyusun argumentasi. Kesimpulannya bisa sama, tetapi jalan berpikirnya berbeda.

Di sinilah pentingnya kehati-hatian dalam memahami istilah agama agar tidak terjebak pada kesimpulan yang keliru.

Agama tidak pernah salah. Yang sering keliru adalah cara manusia memahaminya.

Menjadi Zuhud di Tengah Dunia Modern

Kata “muslim” dalam Al-Qur’an pada dasarnya bermakna orang yang berserah diri kepada Allah.

Sikap pasrah yang dimaksud bukan menyerah tanpa usaha, tetapi kepasrahan setelah melakukan ikhtiar terbaik.

Kesadaran ini mengajarkan bahwa inti ajaran adalah kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan, bukan sekadar label atau identitas.

Allah berfirman: “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam (berserah diri).” (QS. Ali Imran: 19)

Di zaman yang serba kompetitif, sikap zuhud justru semakin relevan.

Zuhud mengajarkan keseimbangan: bekerja keras tanpa kehilangan arah, memiliki tanpa diperbudak, dan menikmati tanpa melupakan sesama.

Zuhud bukan tentang meninggalkan dunia, melainkan menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

Dengan pemahaman yang lurus, seseorang dapat hidup produktif, bermanfaat, sekaligus tetap tenang secara batin. (top)

Editor : Ali Mustofa
#zuhud #Kehidupan #Tawakal #rezeki #kekayaan