Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hubunganmu dengan Al-Qur’an Mulai Jauh? Ini Cara Menghidupkannya Kembali

Ali Mustofa • Senin, 4 Mei 2026 | 08:33 WIB
Ilustrasi membaca Alquran. (Freepik)
Ilustrasi membaca Alquran. (Freepik)

RADAR KUDUS – Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas melafalkan huruf demi huruf.

Ia adalah ibadah yang sarat makna, perjumpaan hamba dengan Kalam Tuhannya. 

Karena itu, adab membaca Al-Qur’an menjadi hal yang sangat penting.

Para ulama menegaskan, buruknya etika saat membaca Al-Qur’an bisa menjadi penghalang turunnya keberkahan dan karunia Allah.

Membaca Al-Qur’an harus dipandang sebagai membaca firman Sang Pencipta. Setiap ayat adalah pesan cinta dari Tuhan kepada hamba-Nya.

Maka, sudah seharusnya dibaca dengan rasa hormat, cinta, dan kerinduan untuk mendekat kepada-Nya.

Membaca Kalam Ilahi dengan Rasa Cinta

Seseorang yang pernah merasakan cinta tentu memahami betapa berharganya surat atau pesan dari orang yang dicintai.

Setiap kata diresapi, setiap kalimat dihayati, bahkan dibaca berulang-ulang tanpa rasa bosan.

Demikian pula Al-Qur’an. Ia adalah Kalam dari Zat Yang Maha Bijaksana dan Maha Pengasih.

 Ketika seseorang menyadari bahwa yang dibacanya adalah firman Tuhan, maka seharusnya hati dipenuhi rasa hormat dan kekaguman.

Dalam sebuah kisah, Ikrimah, seorang ulama besar, setiap kali membuka mushaf hampir pingsan karena haru.

Ia berulang kali berkata, “Ini Kalam Tuhanku… ini Kalam Tuhanku.” Kisah ini menggambarkan betapa dalam rasa hormat para ulama terhadap Al-Qur’an.

Membaca sebagai Hamba di Hadapan Tuhannya

Para ulama mengingatkan, ketika membaca Al-Qur’an seseorang tidak boleh merasa seperti pekerja yang sekadar menyelesaikan tugas.

Ia harus merasa sebagai hamba yang sedang berdiri di hadapan Sang Majikan.

Seorang sufi pernah berkata, siapa yang selalu merasa bacaannya belum sempurna, maka ia akan terus memperbaiki diri dan semakin dekat kepada Allah.

Kesadaran akan kekurangan justru menjadi jalan menuju kedekatan spiritual.

Adab membaca Al-Qur’an dimulai sebelum ayat pertama dilafalkan.

Seseorang dianjurkan berwudhu, membersihkan mulut, lalu memilih tempat yang tenang agar bisa khusyuk.

Duduk menghadap kiblat membantu menghadirkan rasa hormat.

Ketika membaca, hendaknya merasa seolah sedang mendengarkan langsung firman Allah.

Jika memahami makna ayat, dianjurkan untuk merenungkannya. Ayat rahmat dibalas doa harapan, ayat azab dibalas doa perlindungan.

Bila belum mampu menangis, dianjurkan menghadirkan perasaan seolah ingin menangis.

Menjaga Kehormatan Mushaf dan Bacaan

Al-Qur’an tidak seharusnya dibaca dengan tergesa-gesa, kecuali untuk tujuan menghafal.

Mushaf hendaknya ditempatkan di tempat yang tinggi dan terhormat.

Saat membaca, sebaiknya tidak berbicara kecuali terpaksa. Jika harus berbicara, tutup mushaf terlebih dahulu, lalu kembali membaca dengan ta’awudz.

Bacaan dapat dilantunkan perlahan bila dikhawatirkan mengganggu orang lain, atau dinyaringkan bila situasi memungkinkan.

Para ulama juga menganjurkan membaca dengan suara yang indah, karena banyak hadis yang memotivasi umat Islam untuk memperindah bacaan Al-Qur’an.

Kembali Menghidupkan Hubungan dengan Al-Qur’an

Menghafal sebagian ayat untuk menjalankan hukum Islam adalah kewajiban individu.

Sementara menghafal seluruh Al-Qur’an adalah kewajiban kolektif umat.

Jika suatu wilayah tidak memiliki penghafal Al-Qur’an, seluruh penduduknya ikut menanggung dosa.

Namun di zaman modern, muncul pandangan keliru yang meremehkan hafalan Al-Qur’an.

Ada yang menganggapnya tidak bermanfaat, bahkan membuang waktu.

Para ulama menilai pandangan ini sebagai tanda melemahnya pemahaman agama.

Di tengah berbagai kesibukan dunia, hubungan dengan Al-Qur’an sering memudar.

Padahal, Al-Qur’an adalah cahaya bagi hati dan petunjuk bagi kehidupan.

Sudah saatnya umat kembali memuliakan Al-Qur’an, membacanya dengan adab, menghayatinya dengan hati, serta menjadikannya pedoman hidup.

Karena pada akhirnya, hanya kepada Allah tempat mengadu dan hanya kepada-Nya tempat memohon pertolongan. (top)

Editor : Ali Mustofa
#Al-Qur'an #agama #Pedoman Hidup #mushaf #Sang Pencipta